Senin, 17 Mei 2010

teori berfikir dalam kajian psikologi

PENDAHULUAN

Di dalam ilmu psikologi ada teori berfikir dan di dalam teori berfikir itu mencakup banyak aktivitas mental. Kita berfikir saat memutuskan sebuah pemikiran atau masalah, misalnya memutuskan barang apa yang akan kita beli di toko, kita berfikir saat melamun sambil menunggu kuliah pengantar psikologi dimulai, kita berfikir saat mencoba memecahkan soal ujian yang diberikan di kelas, kita berfikir saat menulis artikel, menulis makalah, dan lain-lain.
Berfikir adalah suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Akan tetapi pikiran manusia walaupun tidak bisa dipisahkan dari aktivitas kerja otak. Lebih dari sekedar kerja organ tubuh yang disebut otak, kegiata berfikir juga melibatkan seluruh pribadi manusia, dan juga melibatkan peasaan dan kehendak manusia. memikirkan sesuatu berarti mengarahkan diri pada obyek tertentu. menyadari kehadirannya seraya secara aktif menhadirkannya dalam pikiran, kemudian mempunyai gagasan atau wawasan tentang obyek tersebut.
Berpikir juga berarti berjerih payah secara mental untuk memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan merancang, menghitung, mengukur, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah, atau membedakan. Menghubungkan menafsirkan, melihat memungkinkan yang ada, membuat analisis dan sintesis.
Biasanya, kegiatan berpikir dimulai ketika muncul keraguan dan pertanyaan untuk dijawab, atau berhadapan dengan persoalan atau masalah yang memerlukan pemecahan. Seperti dikemukakan oleh Charles S. Piere dalam berfikir ada dinamik, gerak dari adanya gangguan suatu keraguan atas kepercayaan atau keyakinan yang selama ini dipegang lalu terangsang untuk melakukan tindakan.
Jadi kita harus memahami dalam teori berfikir ini mengenai jiwa, di dalam jiwa tersebut dapat menetapkan suatu hubungan antara ketahanan. Ketahanan kita, kita semua berfikir tapi dengan cara berbeda-beda. Sebagian anak umpamanya tunduk dengan kemahiran “alami” dalam bidang angka-angka, inikan merupakan suatu kelebihan yang dimiliki oleh seorang anak yang bisa berfikir dengan baik.
Berfikir merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam jiwa manusia.




PEMBAHASAN

A. Pengertian Berfikir
Berfikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan sesuatu yang menjadi ia tahu atau (pengetahuan). Atau suatu proses dialektis, artinya selama kita berpikir, pikiran kita mengadakan tanya jawab dengan fikiran kita untuk meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita itu, dengan tepat pertanyaan itulah yang memberi arah kepada fikiran kita. Atau juga sesuatu kegiatan mental yang melibatkan otak kita bekerja. Contoh: seorang siswa mendapatkan tugas dari gurunya untuk memecahkan masalah seperti terlihat di bawah ini. Ada beberapa buah titik dengan susunan sebagai tergambar.
. . .
. . .
. . .
Tugas siswa ialah menghubungkan kesembilan buah titik itu dengan empat buah garis, dan dalam membuat garis tersebut siswa tidak boleh mengangkat alas yang digunakannya.






Pada gambar tersebut terdapat tiga buah tonggal A, B, C, pada tonggak A terdapat empat buah benda bulat yang berbeda besar kecilnya, dan dapat dimasukkan dalam tonggak-tonggak tersebut, tugas siswa ialah: menggalikan benda-benda tersebut ke tonggak C dengan catatan pada waktu mengambil dilakukan satu demi satu dan benda bulatan yang lebih kecil tidak boleh ada di bawah benda bulatan yang lebih besar dan tiga tonggak tersebut dapat digunakan. Dalam menghadapi tugas tersebut siswa berusaha sejauh kemampuan yang ada padanya untuk menyelesaikan tugas itu dengan kata lain siswa mulai berfikir dan mulai pemecahan masalah yang dihadapi dia. Apa sebenarnya berpikir itu? Dari contoh tersebut dapat dikemukakan bahwa pada diri siswa terdapat aktivitas mental aktivitas kognitif yang berwujud. Mengolah atau memanipulasi informasi dari lingkungan dengan simbol-simbol atau materi-materi yang disimpan dalam ingatannya, khususnya yang ada dalam long term memory si siswa. Mengaitkan pengertian satu dengan pengertian lain serta kemungkinan-kemungkinan yang ada, sehingga mendapatkan pemecahan masalahnya.

B. Proses Berfikir
Simbol-simbol yang digunakan dalam berfikir pada umumnya adalah berupa kata-kata atau bahasa (language). Karena itu sering dikemukakan, bahwa bahasa dan berfikir mempunyai kaitan yang erat. Dengan bahasa manusia dapat menciptakan ratusan, ribuan simbol-simbol yang memungkinkan manusia dapat berpikir dengan begitu sempurna. Apabila dibandingkan dengan makhluk lain, sekalipun bahasa merupakan alat yang cukup ampuh (powerful) dalam proses berpikir, namun bahasa bukan satu-satunya alat yang dapat digunakan dalam proses berpikir. Sebab masih ada lagi yang dapat digunakan yaitu bayangan atau gambaran (image). Untuk menjelaskan hal ini diberikan contoh, sebagai berikut bayangkan bahwa anda ada di suatu tempat di sudut kota misalnya Bulaksumur, dan anda diminta datang di kraton. Dalam kaitan ini anda akan menggunakan gambaran atau bayangan kota Yogyakarta. Khususnya yang berkaitan dengan Bulaksumur dan kraton dan menentukan jalan-jalan mana saja yang akan ditempuh untuk berangkat dari Bulaksumur sampai di kraton. Jadi disini kita menggunakan gambaran dan tayangan (image) yang merupakan visual map atau juga disebut cognitive map yang memberi gambaran yang dihadapi. Biasanya seseorang memasuki suatu kota atau tempat yang baru akan memperoleh gambaran tentang kota atau tempat yang baru itu dan ini memberikan gambaran kepada orang yang bersangkutan atau memberi visual map atau cognitive map ini yang sering disebut non verbal thinking demikian juga apabila orang berfikir menggunakan skema-skema tertentu atau gambar-gambar tertentu dalam klasifikasi tersebut.
Walaupun berpikir dapat menggunakan gambaran-gambaran atau bayangan-bayangan atau image. Namun sebagian terbesar dalam berpikir orang menggunakan bahasa dengan segala ketentuan-ketentuannya karena bahasa merupakan ada alat yang penting dalam berpikir. Maka sering dikemukakan bila seorang itu berpikir, orang itu bicara dengan dirinya sendiri.
Proses-proses manakah yang dilalui selama kita berpikir? Diantara proses yang dilalui adalah:
1. Pembentukan pengertian, artinya dari satu masalah, pikiran kita membuang ciri-ciri tambahan yang membingungkan, misalnya hal yang menghambat pada diri kita untuk berpikir sehingga tinggal ciri-ciri yang tipis (yang tidak harus ada pada masalah ini).
2. Pembentukan pendapat, artinya pikiran kita menghubungkan atau menceraikan beberapa pengertian yang menjadi tanda khas dari masalah itu.
3. Pembentukan keputusan, artinya pikiran kita menggabungkan pendapat-pendapat tersebut.
4. Pembentukan kesimpulan, artinya pikiran kita menarik keputusan dari keputusan-keputusan yang lain.
Proses pertama dalam berpikir ialah: pembentukan pengertian.
a. Apa yang harus diingat diwaktu pembentukan pengertian? Yang harus diingat dalam pembentukan pengertian adalah:
1) Pengertian itu harus mempunyai isi yang tepat.
2) Kalau perlu pembentukan pengertian harus dibantu dengan hal-hal yang nyata.
b. Apa yang dimaksud pengertian? Pengertian adalah suatu alat pembantu berpikir untuk mendapatkan pandangan yang kongkrit dari kenyataan-kenyataan.
Dan proses selanjutnya di dalam berpikir ialah: pembentukan keputusan, ada beberapa pembentukan proses di dalam berpikir:
a) Keputusan dari pengalaman-pengalaman.
Misalnya: Kemarin paman duduk di kursi panjang.
b) Keputusan dari tanggapan-tanggapan.
Misalnya: Anjing kami menggigit seorang kusir, sepeda saya sudah tua.
c) Keputusan dari pengertian-pengertian.
Misalnya: Bunga itu indah.
Proses selanjutnya dalam berpikir adalah menarik kesimpulan. Yang dimaksud menarik kesimpulan adalah: disini diterangkan ada tiga macam kesimpulan dalam teori berpikir:
a) Kesimpulan induksi
Adalah kesimpulan yang ditarik dari keputusan-keputusan yang khusus untuk mendapatkan yang umum.
Contoh: Besi kalau dipanaskan akan memuai.
Tembaga kalau dipanaskan akan memuai.
Loyang kalau dipanaskan akan memuai.
Kesimpulannya, semua logam memuai kalau dipanaskan.
b) Kesimpulan deduksi
Adalah kesimpulan yang ditarik dari keputusan yang umum untuk mendapatkan keputusan yang khusus.
Misalnya: Semua manusia mesti mati.
Karta manusia
Karta mesti mati.
- Keputusan yang bersifat umum (semua manusia mati)
- Keputusan khusus dari mayor (Karta manusia) kita sebut minor, mayor dan minor kita sebut premis.
c) Kesimpulan analog
Ialah kesimpulan yang sama sebab analog dari kata an (= tidak) dan a (= benar). Jadi analogi berarti benar, atau sama. Jadi analogi adalah kesimpulan yang ditarik dengan jalan membandingkan situasi yang satu dengan situasi yang lain yang telah kita kenal. Tetapi biasanya pengenalan kita kepada situasi. Pembanding itu kurang teliti, maka kesimpulan analogi ini biasanya kurang benar.
Misalnya: Ibu, sakit, tidur
Ayah, tidur
Ayah sakit
Misalnya lagi si Adam nakal, si Badu adik si Adam juga nakal, tentu si Charli adik si Badu nakal juga.
Adakah itu juga suatu kesimpulan? Iya memang, sebab suatu kesimpulan analogi, yang biasa disebut dengan kata. Menyamaratakan hal ini sering terjadi, sebab didalamnya ada kecenderungan untuk memusuhi atau mendekati.
Ada hubungan mengenai bahasa dengan berpikir ada dua macam pendapat dalam hal ini ialah: pendapat satu mengatakan bahwa hubungan antara berpikir dan bahasa ialah mutlak, sebab berpikir sebenarnya adalah berbicara dengan batin dan berbicara adalah berpikir yang diutarakan (diucapkan). Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa pendapat yang satu itu tidak benar jadi ada konflik pendapat. Dia mengatakan dengan bukti bahwa ada sesuatu yang dapat dipikirkan, teapi tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata dan ada kata-kata yang tidak mengiringi atau mengandung pengertian. Jadi yang benar hubungan antara keduanya itu bukan mutlak tetapi halnya erat, keeratan itu.
Misalnya: 1. Dengan bahasa kita sudah mudah berpikir.
2. Bahasa ialah alat yang utama untuk melahirkan pikiran.
3. Bahasa ialah alat untuk menyimpan pikiran.
4. Bahasa ialah alat hubungan sosial dan sebagai komunikasi.

C. Konsep Dalam Berpikir
Seperti yang dipaparkan di depan tadi yaitu mengenai proses berpikir tadi, di dalam berpikir ada sebuah konsep yang menggunakan simbol-simbol atau gambaran-gambaran, kata-kata, pengertian-pengertian, yang ada dalam ingatan khususnya ingatan yang berkaitan dengan long term memory. Pengertian atau konsep merupakan konstruksi kejadian, misalnya, pengertian manusia, marah, segi tiga belajar, dan sebagainya. Dengan kemampuan manusia untuk membentuk konsep atau pengertian memungkinkan manusia untuk mengadakan klasifikasi atau penggolongan.
Yang merah dan yang bukan merah, dapat menggolongkan manusia dan bukan manusia dan demikian juga yang lain. karena itu konsep atau pengertian merupakan alat (tool) yang baik atau cepat (convenient) dalam berpikir atau problem solving.
Dalam pengertian atau konsep didapati beberapa macam konsep yaitu:
1. Konsep-konsep atau pengertian-pengertian yang sederhana.
2. Konsep-konsep yang komplek.
Pengertian sederhana merupakan pengertian yang dibatasi oleh ciri-ciri atau atribut tunggal misalnya marah. Namun justru banyak pengertian atau konsep yang menggunakan dalam berpikir dibatasi oleh ciri yang tidak tunggal. Ini yang dimaksud dengan konsep komplek di samping itu ada yang disebut dengan konsep konjugatif, konsep ini merupakan konsep yang dibtasi adanya kaitan (joint) dua atau lebih sifat atau ciri yang membentuk konsep tersebut. misalnya zebra merupakan binatang menyusui seperti kuda, tetapi loreng. Konsep disjungtif merupakan konsep yang dibatasi dengan tiap ciri atau sifat yang membawa obyek dalam kelas dari konsep. Misalnya transport dapat kuda, dapat truk, dapat becak dan sebagainya. di samping itu juga ada konsep relational, yaitu konsep atau pengertian yang mempunyai pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian yang lain. dalam keadaan sehari-hari, misalnya lebih besar dari, lebih berat dari, lebih kurang dari dan sebagainya.

D. Problem Solving
Apa yang dimaksud dengan problem. Problem solving ini timbul apabila ada perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan. Atau juga sering dikemukakan apabila ada kesenjangan antara satu dengan yang lain. Contoh: di muka menggambarkan adanya problem yang harus dipecahkan oleh seorang mahasiswa yang mendapatkan tugas dari dosennya! Mahasiswa yang mendapat problem itu akan berpikir untuk mencari pemecahannya, dengan demikian dapat dikemukakan bahwa dalam problem solving itu adalah directed, yaitu mencari pemecahan dan dipicu untuk mencapai pemecahnya tersebut.
Dalam mencari pemecahan terhadap problem solving itu ada kaidah atau aturan (rules) yang akan membawa seseorang kepada pemecahan masalah tersebut. aturan ini akan memberikan petunjuk untuk memecahkan masalah banyak aturan atau kaidah dalam memecahkan masalah. Ada dua hal yang pokok yaitu aturan atau kaidah alogaritma dan horistik.
1. Alogaritma merupakan suatu perangkat aturan, dan apabila aturan ini diikuti dengan benar, maka akan ada jaminan adanya pemecahan terhadap masalahnya. Misalnya: Apabila seseorang harus mengalikan dua bilangan, maka apabila orang yang bersangkutan mengikuti aturan dalam hal perkalian dengan benar akan ada jaminan orang tersebut memperoleh hasil pemecahan misalnya. Namun dengan demikian banyak persoalan yang dihadapi oleh seseorang tidak dikenal aturan alogaritma, tetapi dikenal aturan atau kaidah horistik yaitu merupakan strategi yang biasanya didasarkan atas pengalaman dalam menghadapi masalah yang mengarah pada pemecahan masalahnya, tetapi tidak memberikan jaminan akan kesuksesan
2. Strategi umum horistik dalam menghadapi masalah, yaitu bahwa masalah tersebut dianalisis atau dipecah-pecah menjadi masalah-masalah yang lebih kecil.
Dalam rangka pemecahan masalah itu apabila diamati, akan terdapat adanya perbedaan dalam langkah-langkah yang diambil dari individu satu dengan individu yang lain. Ada yang segera mengambil langkah jikalau perintah itu ada dan dimengerti, dan mencoba-coba hingga sampai cara yang benar. Namun juga ada yang tidak mengambil tindakan, tetapi memerlukan kemungkinan-kemungkinan yang ada berkaitan dengan pemecahan masalahnya. Sebelum mengambil tindakan secara kongkrit.
Satu dengan yang lain dalam kaitan dengan ini ada pendapat yang berbeda satu dengan yang lain dalam kaitannya dengan problem solving ini, faktor apa yang berperan didalamnya? Pendapat yang berbeda terdapat pada pendapat yang behavioristik berhadapan dengan pandangan dari kalangan gasltalt masing-masing pihak mengajukan pendapat dengan argumentasi sendiri-sendiri dengan hasil percobaannya masing-masing.

E. Berpikir Kreatif
Setelah dipaparkan di depan tadi mengenai problem solving. Seseorang atau organisme mencari pemecahan terhadap masalah yang dihadapi. Namun di dalam berpikir orang akan dapat menemukan sesuatu yang baru, yang sebelumnya mungkin terdapat, hal ini dapat dijumpai misalnya dalam diri seseorang menulis cerita, ataupun pada seorang ilmuwan ataupun pada bidang-bidang lain itu yang sering berkaitan dengan berpikir kreatif (creative thinking) dengan berpikir kreatif orang akan menciptakan sesuatu yang baru, timbulnya atau munculnya hal baru tersebut secara tiba-tiba. Ini yang berkaitan dengan insight. Sebenarnya apa yang dipikirkan itu telah berlangsung namun belum memperoleh sesuatu pemecahan, dan masalah itu tidak hilang sama sekali, akan tetapi harus berlangsung dalam jiwa seseorang yang pada suatu waktu memperoleh pemecahannya.
Adapun macam-macam kegiatan berpikir dapat kita golongkan sebagai berikut:
1. Berpikir secara asosiatif yaitu proses berpikir dimana sesuatu ide merangsang timbulnya ide lain jalan pikiran, dalam proses berpikir asosiatif tidak ditentukan atau diarahkan sebelumnya. Jadi ide-ide timbul secara bebas. Jenis-jenis berpikir asosiatif adalah:
a. Asosiatif bebas satu ide akan menimbulkan ide mengenai hal lain, yaitu hal apa saja tanpa ada batasnya. Misalnya, ide tentang makanan dapat merangsang timbulnya ide tentang warung, atau restoran, dapur ataupun juga anak yang belum sampai diberi makan atau apa saja.
b. Asosiatif terkontrol, satu ide tertentu akan menimbulkan ide mengenai hal lain dalam batas-batas tertentu. Misalnya ide tentang “membeli mobil”, akan merangsang ide-ide lain tentang harganya, atau pajaknya, atau pemeliharaannya, atau mereknya, atau modelnya, tetapi tidak merangsang ide tentang hal-hal lain di luar itu seperti peraturan lalu lintas, polisi lalu lintas, mertua yang sering meminjam barang-barang, piutang yang belum ditagih dan sebagainya.
c. Melamun: yaitu mengkhayalkan bebas, sebebas-bebasnya tanpa batas, juga mengenai hal-hal yang tidak realistis.
d. Mimpi: Ide-ide tentang berbagai hal, yang timbul secara tidak disadari pada waktu tidur. Mimpi ini kadang-kadang terlupakan pada waktu bangun, tetapi kadang-kadang masih dapat diingat.
e. Berpikir artistik: Yaitu proses berpikir yang sangat subyektif. Jalan pikiran sangat dipengaruhi oleh pendapat dan pandangan diri pribadi tanpa menghiraukan keadaan sekitar. Ini sering dilakukan oleh para seniman dalam menciptakan karya-karya seninya.
2. Berpikir terarah, yaitu proses berpikir yang sudah ditentukan sebelum dan diarahkan kepada sesuatu, biasanya diarahkan kepada pemecahannya persoalan. Dua macam berpikir terarah, yaitu:
a. Berpikir kritis, yaitu membuat keputusan atau pemilihan terhadap suatu keadaan.
b. Berpikir kreatif, yaitu berpikir untuk menemukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru dan sebagainya.
Dalam berpikir selalu dipergunakan simbol, yaitu sesuatu yang dapat mewakili segala hal dalam alam pikiran. Misalnya perkataan “buku” adalah simbol uang mewakili benda yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid dan dicetaki huruf-huruf. Di samping kata-kata, bentuk-bentuk simbol antara lain adalah angka-angka dan simbol-simbol matematika, simbol-simbol yang dipergunakan dalam peraturan lalu lintas, noot musik, mata uang dan sebagainya.
Telah dikatakan di atas, bahwa berpikir terarah diperlukan dalam memecahkan persoalan-persoalan. Untuk dapat mengarahkan jalan pikiran kepada pemecahan persoalan, maka terlebih dahulu diperlukan penyusunan strategi. Ada dua macam strategi umum dalam pemecahan persoalan:
1. Strategi menyeluruh, disini persoalan dipandang sebagai suatu keseluruhan dan dicoba dipecahkan dalam rangka keseluruhan itu.
2. Strategi detailistis, disini persoalan dibagi-bagi dalam bagian-bagian dan dicoba dipecahkan bagian demi bagian.
Dalam strategi yang pertama, sering kali dapat dilihat hal-hal yang sama pada beberapa bagian sehingga dapat diatasi sekaligus. Dengan demikian, cara ini lebih efisien dan lebih cepat, dan terutama berguna kalau waktunya terbatas.
Kesulitan dalam memecahkan persoalan dapat ditimbulkan oleh:
1. Set, cara pemecahan persoalan yang berhasil biasanya cenderung dipertahankan pada persoalan-persoalan yang berikutnya (timbul: set). Padahal belum tentu persoalan yang berikut itu dapat dipecahkan dengan cara yang demikian itu. Dalam hal ini akan timbul kesulitan-kesulitan, terutama kalau orang yang bersangkutan tidak mau mengubah setnya.
2. Sempitnya pandangan, sering dalam memecahkan persoalan, seseorang hanya melihat satu kemungkinan jalan keluar. Meskipun ternyata kemungkinan yang satu ini tidak benar, orang tersebut akan mencobanya terus, karena ia tidak melihat jalan keluar yang lain. Tentu saja ia akan menemui kegagalan. Kesulitan seperti ini disebabkan oleh sempitnya pandangan orang tersebut, sehingga ia tidak dapat melihat adanya beberapa kemungkinan jalan keluar.



BAB III
KESIMPULAN

Berpikir adalah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan sesuatu yang menjadi ia tahu atau sesuatu kegiatan mental yang melibatkan otak kita bekerja. Simbol-simbol yang digunakan dalam berpikir pada umumnya adalah menggunakan kata-kata, bayangan atau gambaran dan bahasa. Namun, sebagian terbesar dalam berpikir orang lebih sering menggunakan bahasa atau verbal (berpikir dengan menggunakan simbol-simbol bahasa dengan segala ketentuan-ketentuan) karena bahasa merupakan alat penting dalam berpikir. Proses-proses yang dilalui dalam berpikir diantaranya:
1. Pembentukan pengertian.
2. Pembentukan pendapatan.
3. Pembentukan keputusan.
4. Pembentukan kesimpulan
Seperti yang dipaparkan di atas yaitu mengenai proses berpikir, di dalam berpikir ada sebuah konsep atau pengertian yang menggunakan simbol-simbol, gambaran-gambaran dan kata-kata yang ada dalam ingatan khususnya yang berkaitan dengan long memory. Pengertian atau konsep merupakan kontribusi simbolik yang menggambarkan ciri atau beberapa ciri umum sebuah obyek atau kejadian.
Di dalam konsep ada beberapa macam konsep yaitu:
1. Konsep sederhana yaitu konsep yang dibatasi ciri atau atribut tunggal.
2. Konsep komplek yaitu konsep yang dibatasi oleh ciri-ciri yang tidak tunggal.
Problem solving adalah pemecahan atau penyelesaian suatu masalah yang biasanya timbul karena adanya perbedaan atau konflik antara keadaan satu dengan yang lain dalam rangka untuk mencapai tujuan. Di dalam mencari problem solving tersebut terdapat beberapa kaidah atau aturan, diantaranya:
1. Alogaritma yaitu suatu perangkat atau aturan dan apabila aturan itu diikuti dengan benar maka akan ada jaminan keberhasilan dalam problem solving tersebut.
2. Strategi umum horistik yaitu masalah tersebut dianalisis atau dipecah-pecah menjadi masalah yang lebih kecil.
Berpikir kreatif adalah berpikir untuk menemukan hubungan-hubungan baru antara berbagai hal, menemukan pemecahan baru dari suatu soal, menemukan sistem baru, menemukan bentuk artistik baru.
Macam-macam kegiatan berpikir:
1. Berpikir asosiatif.
2. Berpikir terarah.



DAFTAR PUSTAKA
Bimo Walgito, 2002, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta: Andi.
Sujanto Agus, 2003, Psikologi Umum, Surabaya: Bumi Aksara.
Wirawan Sarwono, Sarlit, 1976, Pengantar Umum Psikologi, Jakarta: Bulan Bintang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar