Senin, 17 Mei 2010

tantangan dakwah di era global

PENDAHULUAN

Seiring dengan masuknya era globalisasi saat ini, turut mengiringi lemahnya moralitas manusia terutama terjadi pada usia anak-anak remaja. Di zaman yang seraba canggih ini, perkembangan teknologi semakin maju dan berkembang terutama pada alat-alat komunikasi, HP, internet, dan sebagainya. Secara hakikiyah kalau dipahami secara mendalam sebenarnya dengan berkembangnya kemajuan dan perkembangan teknologi semacam ini banyak membawa nilai-nilai positif. Akan tetapi hal ini tidak disadari oleh semua manusia terutama anak-anak diusia remaja. Justru malah disalah gunakan dengan hal-hal yang bersifat negatif. Seperti halnya pornografi, film video sexual, hal ini yang sekarang begitu semaraknya ditonton oleh kalangan remaja. mereka begitu asyik menonton tanpa memperdulikan hukum. Dengan keasyikannya tak lama menjadi kebiasaan menoton, yang paling parah adalah sampai kecanduan dan ini membawa dampak negatif khususnya mempengaruhi dan merusak saraf otak manusia. Sehingga secara psikologi cenderung untuk berbuat hal-hal yang negatif. Melihat fenomena yang dialami oleh kaum remaja banyak terjadi sex bebas, hamil diluar nikah, pertunjukan porno aksi, secara tidak sadar ini adalah merusak tatanan etika moral manusia sehingga terjerumus kelubang kemaksiatan.
Hal inilah menjadi tantangan bagi seorang da’i untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. di era globalisasi seperti ini.. Semua manusia harus sadar khususnya umat Islam, agar tidak terjebak dalam hal semacam ini, dan bisa memfilter mana yang harus di manfaatkan dan mana yang harus di hindari.


PEMBAHASAN

A. HAKIKAT DAKWAH
Dalam kehidupan sehari-hari telinga kita tidak pernah bosan terdengar kata dakwah.. Bahkan seluruh umat Islam tidak asing lagi mendengar kata dakwah, akan tetapi banyak manusia terutama umat Islam mengetahui tentang dakwah yang tidak bisa memahaminya. Banyak yang mengira bahwa dakwa itu khusus bagi kiyai, ustad, guru, professor dan sebagainya. Padahal dakwah itu adalah : kewajiban bagi semua umat Islam ketika melihat kemungkaran. Makna dakwah adalah : mengajak menyeru manusia menuju jalan yang diridhoi oleh Allah dan hal ini juga di definisikan oleh pada ahli dakwah diantaranya menurut Syekh Muhammad Al-Khadir Husan bahwasannya dakwah adalah :
Menyeruh manusia kepada kebajikan dan petunjuk, serta menyeruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebaikan dunia dan akhirat.
Definisi ini menjadi pegangan bagai Syekh Ali Mahfudh dalam kitabnya “Hidayah Al-Mursyidin untuk merumuskan definisi dakwah.
Jadi pada hakikatnya dakwah adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam yang mengetahui adanya kemungkaran. Rasulullah Muhammad SAW juga pernah berpesan kepada sahabatnya “Sampaikanlah kebenaran walaupun Cuma satu ayat. Itu artinya sebagai umat Islam, Ketika mengerti dan memahami ajaran Islam kita wajib menyampaikan walaupun cuma sedikit. Sesuai dengan kadar pengetahuan yang dimilikinya kepada orang-orang yang belum mengerti. Khususnya di era global semacam ini, banyak orang mengetahui baik dan buruk tetapi belum bisa memahami secara dalam.

B. KEHIDUPAN MANUSIA DI ERA GLOBAL
Makna globalisasi adalah menyeluruh artinya dalam kehidupan manusia yang mencakup kegiatan ekonomi, politik, khususnya dalam dunia perdagangan bebas produk. Orang luar bisa masuk kenegara satu kenegara lainnya, dan istilah itu terjadi istilah globalisasi pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menujuk pada politik ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah, revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipat gandakan ekselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Dis integrasi negara-negara komunis yang mengakhiri perang dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideology perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Ommen), Rekolonisasi (Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme. (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga.
Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan di Mc Donald, minum Coca cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampan dalam bentuk Kapitlaisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO : lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global.
Program-program dari lembaga-lembaga itu telah menjadi alat yang ampuh dari kapitalisme barat yang mengguncangkan, merontokkan dan meluluh-lantakkan bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan negara-negara miskin. dalam suatu bentuk pertandaingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin mejadi semakin terpuruk dan merana.
Jadi, walaupun ada dampak positif mengenai globalisasi seperti sekarang ini misalnya, hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu, dalam ketidak adilan perdagangan antar bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, negara-negara miskin telah di peras lewat pembayaran beban utang ke lembaga global. Di contohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari Sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi. Dan tidak hanya hal ini saja, berkenaan budayapun ikut masuk, bagaimana tradisi-tradisi budaya barat memasuki tradisi-tradisi di negara yang notabennya Islam. Sehingga nuansa Islam hilang, salah satu contoh pakaian kaum wanita, yang sekarang begitu semarak, bisa merangsang nafsu gaisah orang laki-laki, Pakaian-pakaian ketat yang merusak moral manusia, dan ini banyak di alami oleh anak-anak yang menginjak usia remaja yang ahlaq kesopanannya hilang. hal itu membawa dampak negatif kepada mereka yang sekarang banyak menjadi tontonan dan kegemaran wanita yang memperlihatkan tubuh keseksiannya. Akibat dari pengaruh budaya-budaya asing yang masuk tanpa ada filterisasi yang membuat usia mudah rawan tergoda. Dan membahayakan bagi dirinya, seperti banyaknya blue film yang masuk di negara Indonesia.
Permasalahan ini sangat berdampak negatif bagi masyarakat, khususnya kalangan remaja. Banyak blue film atau adegan porno lainnya yang dapat diakses dengan mudah melalui internet. Para remaja bebas mengakses dan menonton film tersebut tanpa pengawasan dari pihak orang tua mereka. Hal tersebut menimbulkan dampak yang kurang baik bagi psikis para remaja itu sendiri, dengan menonton adegan porno, para remaja tersebut jadi termotifasi ingin melakukan hal yang ia tonton, dan ada sesuatu yang baru seharusnya tidak d lakukan, jadi ingin melakukan. Jika sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan? Permasalahan ini hanyalah satu contoh, kasus yang sekarang sering terjadi di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan bagi seroang da’i untuk berdakwah menegakkan amal ma’ruf nahi munkar dimasa yang penuh dengan persoalan-persoalan yang sedemikian rumit.

C. TUGAS BAGI PENDAKWAH
Salah satu visi dan misi bagi pendakwah adalah, menegakkan amal ma’ruf nahi munkar. Seperti halnya yang saya uraikan diatas tadi, bahwasannya dakwah adalah wajib di sampaikan bagi semua manusia yang mengetahui kebenaran.
Melihat fenomena yang sekarang ini terjadi, krisi ekonomi, menyebabkan manusia banyak melakukan kejahatan. Krisis moral dan etika, menyebabkan manusia terperosok kepada lubang perzinaan, bahkan yang paling parah adalah banyak terjadi pemerkosaan. Pembunuhan melanda dimana-mama. begitu rusaknya Ahlaq mereka yang disebabkan arus global yang tidak bisa memfilternya, terumata yang melanda anak-anak usia remaja. Sebagai pendakwah tidak bisa hanya diam semata, akan tetapi pendakwah berkewajiban untuk menegakkan kebenaran. Bagaimana mengarahkan dan menjadikan semua umat Islam mejadi umat yang berakhlaqul karimah, walaupun berada di masa era global.

D. PERSOALAN YANG DIHADAPI PENDAKWAH DI ERA GLOBAL
Melihat fenomena sekarang ini, banyak para pendakwah yang berfikir, bagaimana mengentas kemiskinan moral. yang dihadapi oleh umat Islam saat ini, terutama dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih yang mana sebenarnya membawa dampak positif, justru malah menjadi negatif. banyaknya budaya asing merasuki para muslim, contoh kecil yang terjadi pada anak-anak generasi bangsa, dengan adanya internet mereka tercandu akan adegan film porno, yang membuat rusaknya akal pikiran, sebab banyaknya situs-situs budaya-budaya non muslim masuk dalam interner tanpa ada filter (penyaringan). Sedangkan ini tidak bisa di sadari oleh mereka. Banyak para remaja yang lupa aturan, Al-Qur’an hanya sebagai pajangan, lupa akan peraturan Tuhan. Karena di sibukkan dengan hal tersebut. Para pendakwah sudah berusaha untuk merubah dengan metode-metode yang ia lakukan akan tetapi masih kalah dengan hal tersebut. Ini menjadi tantangan bagaimana anak bangsa mempunyai bekal ilmu pengetahuan baik dibidang agama maupun umum yang matang, sehingga tidak terjerumus kepada situs-situs pornografi dan bisa mewarnai situs-situs yang ada diinternet menjadi situs-situs yang berpendidikan (yang mendidik) hal ini yang harus difikirkan oleh para pendakwah. Maka dari itu, ini merupakan tantangan baik secara eksternal maupun inernal. Dan bagaimana meningkatkan kualitas diri para pemuda bangsa. yakni bagaimana cara kita mencitrakan diri sebagai seorang pelajar maupun pemuda muslim yang kaffah, kuncinya sederhana : berupaya terus mengamalkan ajaran-ajaran Islam sebagaimana tercermin dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW, itu sudah cukup menjadi acuan dalam bersikap.



KESIMPULAN

Dengan semaraknya krisis ekonomi, krisis moral, yang diakibatkan oleh globalisasi yang tidak tersaring (terfilter) membuat para pendakwah menjadi tertantang akan dakwahnya untuk menuntuntaskan kemiskinan. Terutama pada kemiskinan moral yang terjadi pada generasi bangsa. dengan adanya kecanggihan teknologi yang semakin maju, tanpa ada pemfilteran (penyaringan) hingga masuknya situs yang membahayakan jiwa para penerus generasi bangsa.



DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yatim. 2007. Studi Akhlaq dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta : Amzah..
Amin, Ahmad. 1995. Etika Ilmu Akhlak, Jakarta : Bulan Bintang.
Anshori, Isa. 1984. Mujahid Dakwah, Bandung : Diponegoro.
Azis, Ali. 2009. Ilmu Dakwah, Jakarta : Kencana.
Sobana, 1996. Dinamika Kehidupan Sosial, Bandung : Trigenda Karya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar