Senin, 17 Mei 2010

KUMPULAN NASKAH PIDATO (kholid )

PENTINGNYA BERBUAT JUJUR
(Disampaikan Pada Penngajian Umum. Masjid Al- Hikmah Surabaya
Tanggal.18 Oktober 2009)
Oleh : Kholid Noviyanto.
السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنياوالدين. والصلاة والسلام على اشرف المرسلين. وعلى اله واصحابه اجمعين. امابعد.

Yang saya muliyakan,para alim ulama’ para kiyai,para ust dan ustadzah.yang terhormat ketua ta’mir masjid Al-Hikmah dan para hadirin yang berbahagia.

Hadirin yang saya hormati.
Ketika allah menjadikan islam sebagai rahmat buat alam semesta, ketika allah menghendaki dari umat islam menjadi umat terbaik, ketika allah menghendaki agar umat islam mampu memikul amanah untuk memimpin dunia ini maka, allah mempersiapkan umat islam sedemikian rupa, agar umat islam layak menjadi umat yang terbaik, diantara saranya adalah dengan pembentukan manusia bertaqwa.pembentukan taqwa inilah banyak dilupakan oleh manusia,
Hadirin yang saya hormati.
Dalam diri manusia, sebenarnya mempunyai sikap ayng akan membuat kepercayaan bagi manusia lain. dalam sebuah kisah rasulullah diceritakan bahwa, salah satu misi rosulullah untuk membangun pribadi manusia menjadi pribadi yang baik, pribadi yang mempunyai kualitas yang tinggi nilainya yaitu beliau memberikan sebuah contoh dalam beralkhlaqul karimah(alkhlaq yang baik).dalam kehidupan sehari-hari bagaimana rasulullah bersikap?bagaimana rasulullah bertutur kata?ini tiada lain adalah memberikan contoh kepada umatnya.dalam kehidupan rasulullah mengapa rosulullah selalu berhasil dalam segala hal?mulai dari beliau berdagang, berdakwah dsb.sebab salah satu kuci yang yang digunakan adalah jujur dalam segala hal,yang sampai sekarang diajarkan kepada kita semua (Syakhul-Islam Ibn Taimiyah,1993: 33).
Apa Makna jujur? sehingga ketika dilaksananakan akan meraih ketaqwaan yang tinggi.jujur bermakna keselarasan antara berita dengan kenyataan yang ada. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.
Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kali kita dengar. dan menjadi pembicaraan. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut hanya mencakup sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.
Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah menyanjung orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Termasuk dalam jujur adalah jujur kepada Allah, jujur dengan sesama dan jujur kepada diri sendiri. (Syakhul-Islam Ibn Taimiyah,1993:8)
Imam Ibnul Qayyim berkata, Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya).

Allah berfirman,
         •                  

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS. al-Maidah: 119)
         

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zumar: 33)

Keutamaan Jujur
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan mukadimah akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.
Sifat jujur merupakan alamat keislaman, timbangan keimanan, dasar agama, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Baginya kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.
(Syaikh Shalih ibn Fauzan,2001:38)
Kejujuran Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.
Orang yang berlaku jujur,orang lain akan senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.
Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya -dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruf), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.
Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut,
        

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. at-Taubah: 119)
         •                  

“Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.” (QS. al-Maidah: 119)

Macam-Macam Kejujuran
1. Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.
2. Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.
3. Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta.
4. Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur.’”
5. Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur.
Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.
Orang yang selalu berbuat kebenaran dan kejujuran, niscaya ucapan, perbuatan, dan keadaannya selalu menunjukkan hal tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi untuk memohon kepada-Nya agar menjadikan setiap langkahnya berada di atas kebenaran sebagaimana firman Allah,
              

“Dan katakanlah (wahai Muhammad), ‘Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (QS. al-Isra’: 80)

Orang yang senantiasa jujur, akan selalu berhubungan kepada Allah. Ia akan sampai kepada-Nya, sehingga balasannya akan didapatkan di dunia dan akhirat. Allah telah menjelaskan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, dan memuji mereka atas apa yang telah diperbuat,.Bahwa mereka itu adalah orang-orang jujur dan benar. Di sini dijelaskan dengan terang bahwa kebenaran itu tampak dalam amal lahiriah dan ini merupakan kedudukan dalam Islam dan Iman. Kejujuran serta keikhlasan keduanya merupakan realisasi dari keislaman dan keamanan.
(Mahammad ibn Shalih Al-Utsaimin,2002:146)
Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Orang yang menampakkan keislaman pada dhahir (penampilannya) terbagi menjadi dua: mukmin (orang yang beriman) dan munafik (orang munafik). Yang membedakan diantara keduanya adalah kejujuran dan kebenaran atas keyakinannya. Oleh sebab itu, Allah menyebut hakekat keimanan dan mensifatinya dengan kebenaran dan kejujuran,
Oeh karena itu untuk membangun pribadi yang berkualitas yang dapat dipercaya oleh semua orang marilah kita membangun pribadi kita dengan sifat jujur dalam kehidupan kita.untuk meraih derajat ketaqwaan kepada allah swt Seperti yang contohkan rosulullah kepada kita semua.
Sampai disini dulu mudah-mudahan kita dipertemukan oleh Allah di kegiatan yang lain. Dan apabila dari awal hingga akhir terdapat kesalahan, kekeliruan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya
ولسّلام عليكم ورحمة لله وبركاته










DAFTAR PUSTAKA

Taimiyah Ibn Islam , Makarimul-Akhlaq; 1993 ; Pustaka Elba, Surabaya.
Qudamah Imam, 2003;, Terjamah Mukhtashar Minhajul-Qashidin, Pustaka Hidayah, Surabaya.
Fauza. ibn Shali, 2001;, Meneladani Akhlaq Rosul, Pustaka Elba, Surabaya.








































BAB I
SABAR
PERAN KESABARAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
(Disampaikan Kepada Majlis Ta’lim Pengajian al Istiqomah Pagesangan Surabaya).
Oleh :Kholid Noviyanto
السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنياوالدين. والصلاة والسلام على اشرف المرسلين. وعلى اله واصحابه اجمعين. امابعد.
Yang saya muliyakan,para alin ulama’ para kiyai,para ust dan ustadzah.yang terhormat bpk ketua pengajian.dan para hadirin yang berbahagia.
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT.
Dalam kehidupan manusia ada 2 hal yang menjadi peran dalam kehidupannya, hal ini, sudah menjadi hukum alam atau sudah menjadi kehendak Allah SWT, yaitu rasa bahagia dan rasa sedih. Allah memberikan 2 rasa ini kepada manusia bukan berarti Allah tidak menyayangi sepenuhnya kepada manusia, akan tetapi tujuannya adalah agar manusia selalu ingat kepada Allah SWT, manakala manusia mendapatkan kebahagiaan, mendapatkan kenikmatan yang lebih, manusia harus ingat kepada siapa yang memberi dengan rasa bersyukur. ketika manusia mendapatkan cobaan, kesedihan, kesulitan dalam berbagai macam persoalan. Ini juga harus inggat kepadanya. Allah SWT berfirman dalam surat al Baqarah ayat 155-157:
         •                          

Artinya: ”Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang Sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. al Baqarah: 155-157)




Hadirin yang Dirahmati Allah SWT.

Apa yang dinamakan Sabar?
Sabar adalah, :meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah....” (Abdurrahman Nasir,2002: 24)
Apalagi dalam kehidupan yang di akhir zaman seperti ini, banyak bencana dimana-mana, gempa bumi, stunami, udara yang panas dan gersang ini hingga banyak kebakaran api berkobar dimana-mana, yang menjadi pertanyaan besar adalah bisakah kita bersabar dan dengan ujian dan cobaan yang Allah berikan ?

Dalam menghadapi ujian dan cobaan tiada lain adalah rasa sabar, rasa selalu ingat kepada Allah dengan minta perlindungan Allah SWT. (Muhammad nawawi ibu Umar,2002:11)
Hadirin yang Dirahmati Allah SWT.
Ada tiga bagian mengenai sabar dalam penerapan kehidupan manusia, antara lain:
1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah
Bagaimana rasa taat kita kepada Allah dalam menjalankan sebuah kebaikan ibadah kita kepada Allah yang mana ketika kita ada sebuah kesulitan, misalnya: sabar menuntut ilmu.
Syaikh Nu’man mengatakan, ”Betapa banyak gangguan yang harus dihadapi oleh seseorang yang berusaha menuntut ilmu. Maka dia harus bersabar untuk menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah airnya. Sehingga dia harus bersabar dalam upaya menimba ilmu dengan cara menghadiri pengajian-pengajian, mencatat dan memperhatikan penjelasan serta mengulang-ulang pelajaran dan lain sebagainya.
Semoga Allah marahmati Yahya bin Abi Katsir yang pernah mengatakan, ”Ilmu itu tidak akan didapatkan dengan banyak mengistirahatkan badan”, sebagaimana tercantum dalam shahih Imam Muslim. Terkadang seseorang harus menerima gangguan dari orang-orang yang terdekat darinya, apalagi orang lain yang hubungannya jauh darinya, hanya karena kegiatan menuntut ilmu. tidak ada yang bisa bertahan kecuali orang-orang yang mendapatkan anugerah ketegaran dari Allah.
Untuk mencapai keberhasilan dalam menuntut ilmu seperti halnya didalam majlis ta’lim seperti ini, tentu ada sebuah kesabaran menahan rasa ngantuk, sabar dalam memperhatikan dan sebagainya. Apalagi tugas seorang menuntut ilmu haruslah ada sebuah jerih payah kesungguhan, kesungguhan ini kalau tidak diimbangi dengan kesabaran tentu tidak ada hasilnya.


2. Sabar untuk tidak melakukan hal-hal yang diharamkan Allah.
Salah satu contoh lagi adalah sabar dalam ketaatan kepada Allah SWT adalah menjauhi perbuatan maksiat, sebab banyak adzab-adzab Allah SWT, mengapa demikian? Karena nafsu amarah yang melekat pada diri manusia tidak bisa dikendalikan, disinilah rasa sifat sabar sangat berperan dan sebagai pengendali adanya nafsu amarah. Manusia jika bisa memiliki rasa sabar didalam pengendalian nafsu amarah seperti ini, pasti mereka akan mendapatkan perlindungan dari Allah dan selalu berada dalam kasih sayang Allah, dalam arti mereka selalu berbuat baik. Dalam al kisah diceritakan banyak umat-umat terdahulu yang binasa yang diberi adzab oleh Allah SWT karena tidak ada sifat sabar dalam mengendalikan hawa nafsunya, seperti halnya umatnya Nabi Luth yaitu kaum sodom, betapa rusaknya moral mereka, yang mana kemaksiyatan yang begitu dasyat. Orang-orang melakukan sodomi, lesbi dan sebagainya, sebab tidak ada rasa kesabaran dalam mengendalikan hawa nafsu, akhirnya apa yang terjadi, Allah menenggelamkan mereka dalam tanah, ini akibat daripada tidak ada sifat sabar dalam menjauhi kemaksiatan.
Hal ini diterangkan sebagaimana firman Allah dalam surat al Ankabut ayat 40:
     •     •    •     •           
Artinya: ” Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al ’Ankabut: 40)

3. Sabar dalam menghadapi takdir-takdir Allah SWT yang dialaminya berupa berbagai hal yang menyakitkan dan gangguan yang timbul diluar kekuasaan manusia ataupun berasal dari orang lain.

Hadirin Yang Dirahmati Allah SWT
Dalam kehidupan kita yang banyak kita alami adalah poin kesabaran yang ketiga ini, diantaranya apabila kita semua mendapatkan ujian dari Allah seperti halnya suatu hal yang menyakitkan kepada diri kita, misalnya: penyakit, bencana alam dan sebagainya. Ini yang menjadi kuncinya adalah sabar dalam menghadapinya.
Kenyataan yang kita alami ini dalam kehidupan kita banyak musibah yang kita alami, wabah penyakit, bencana alam dan sebagainya. Kalau semua manusia mempunyai kesabaran dalam hal ini, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi dalam surga Allah seperti firman Allah dalam surat al Furqan ayat 75:
       •  
Artinya: ” Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya”. (QS. al Furqan: 75)

Dalam al kisah diceritakan, dimana al kisah ini bercerita seorang Nabi Ayub AS adalah putra Ish bin Ishak bin Ibrahim. Nabi Ayub adalah seorang yang kaya raya. Isterinya banyak, anaknya banyak hartanya melimpah ruah dan ternaknya tak terbilang jumlahnya. Ia hidup makmur dan sejahtera. Walaupun demikian tetap tekun beribadah. Segala nikmat dan kesenangan yang di karuniakan kepadanya tak sampai melupakannya kepada Allah. Ia gemar berbuat kebajikan, suka menolong orang yang menderita dari golongan fakir miskin.

Cobaan Silih Berganti
Para malaikat di langit terkagum-kagum dan sama membicarakan ketaatan Ayub dan keihlasannya dalam beribadah kepada Allah.
Iblis yang mendengar pembicaraan itu merasa iri dan ingin menjerumuskan Ayub agar menjadi orang yang tidak sabar dan celaka.
Pertama Iblis mencoba sendiri menggoda Nabi Ayub agar tersesat dan tak mau bersyukur kepada Allah. Namun ia gagal. Nabi Ayub tak tergoyahkan.
Iblis kemudian menghadap Allah. Minta izin untuk menggoda Nabi Ayub : ”Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayub yang senantiasa patuh dan berbakti menyembah-Mu, senantiasa memuji-Mu, tak lain hanyalah karena takut kehilangan kenikmatan yang telah Engkau berikan kepadanya. Semua ibada tidak ihlas dan bukan karena cinta dan taat kepada-Mu. Andaikata ia terkena musibah dan kehilangan harta benda, anak-anak dan isterinya belum tentu ia akan taat dan tetap ihlas menyembah-Mu.
Allah berfirman kepada Iblis : ”Sesungguhnya Ayub adalah hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia seorang mu’min yang sejati. Apa yang ia lakukan untuk mendekatkan diri kepada-Ku adalah semata-mata didorong iman yang teguh kuat dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan taqwanya takkan tergoyah oleh perubahaan keadaan duniawi, cintanya kepada-Ku dan kebijakannya tidak akan menurun danmenjadi berkurang walau ditimpa musibah apapun yang melanda dirinya dan hartanya. Ia yakin bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat aku cabut dari padanya atau menjadikannya berlipat ganda. Ia bersih dari segala tuduhan dan prasangkamu. Engkau tidak rela melihat hamba-hamba Ku anak cucu Adam berada di atas jalan yang lurus. Unguk menguji keteguhan hati Ayub dan keyakinannya dari-Ku. Kerahkan pembantu-pembantumu untuk menggoda Ayub melau harta dan keluarganya. Cerai beraikan keluarganya yang rukun damai sejahtera itu. Lihatlah sampai dimana kemampuanmu untuk menyesatkan hamba-Ku, Ayub ibu”
Demikianlah, Iblis dan para pembantunya kemudia mulai menyerbu keimanan Ayub. Mula-mula mereka membinasakan hewan ternah peliharaan Nabi Ayub. Satu persatu hewan-hewan itu mati bergelimpangan disusul lumbung-lumbung gandum dan lahan pertanian Nabi Ayub terbakar dan musnah.
Iblis mengira Ayub akan berkeluh kesah setelah kehilangan ternak dan lahan pertaniannya itu. Namun Ayub tetap terbaik sangka kepada Allah. Segalanya ia serahkan kepada Allah. Harta adalah titipan Allah sewaktu-waktu dapat saja diambil lagi.
Berikutnya Iblis dan pembantu-pembantunya mendatangi putra-putra Nabi Ayub di gedung yang besar dan megah. Mereka goyang-goyangkan tiang-tiang gedung sehingga gedung itu kemudian roboh dan anak-anak Nabi Ayub mati semua.
Iblis mengira usahanya berhasil menggoyahkan iman Nabi Ayub yang sangat menyayangi putra-putranya itu, namun mereka kecele. Nabi Ayub tetap berserah diri kepada Allah. Nabi Ayub bersedih hati dan menangis tapi jiwa dan hatinya tetap kokoh dalam keyakinan bahwa jika Allah Yang Maha Pemberi menghendaki semua ini maka tak ada seorangpun mampu menghalangi-Nya.
Selanjutnya Iblis menaburkan baksil di sekujur tubuh Nabi Ayub sehingga beliau menderita sakit kulit yang menjijikkan. Famili dan tetangganya menjauhinya. Isteri-isterinya banyak yang melarikan diri. Hanya seorang yang setia mendampinginya yaitu Rahmah.
Namun akhirnya Rahmah tergoda oleh bujukan setan. Suatu hari ketia ia disuruh Nabi Ayub mala berkata yang menyinggung perasaannya.
Walaupun tujuh tahun dalam penderitaan terus-menerus memang merupakan ujian berat bagi Ayub dan Rahmah. Ayub bisa bersabar dan tetap berdzikir menyebut Asma Allah tetapi isterinya tak tahan lagi.
”Kiranya kau telah terkenal setan, sehingga berkeluh kesah atas takdir Allah.” Kata Ayub kepada isterinya. ”Awas kelak jika aku sudah sembuh kau akan kupukul seratus kali. Mulai saat ini tinggalkanlah aku seorang diri, aku tak membutuhkan pertolonganmu sampai Allah menentukan takdir-Nya.
Setelah ditinggal Rahmah, satu-satunya orang yang yag masih menyayangi dan merawatnya kini Nabi Ayub hidup seorang diri. Di dalam kamarnya ia bermunajat kepada Allah : ”Ya Allah, aku telah diganggu oleh setan dengan kepayahan dan kesusahan serta siksaan dan Engkau wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
Allah menerima do’a Nabi Ayub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman dalam menghadapi cobaa. Berfirman Allah kepada Nabi Ayub : ”Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancar dan dengan air itu kau akan sembuh dari semua penyakitmu. Kesehatan dan kekuatanmu akan pulih kembali jika kau pergunakan untuk minum dan mandi”
Demikianlah, setelah Nabi Ayub minum dan mandir yang yang memancar dari bawah kakinya, maka ia sembuh seperti sediakala.
Sementara itu Rahmah yang telah pergi meninggalkan Nabi Ayub lama-lama merasa kasihan dan tak tega membiarkan Nabi Ayub seorang diri. Ia datang menjenguk, namun ia tak mengenali suaminya lagi. Karena Nabi Ayub sudah sembuh keadaannya jauh lebih baik dari pada sebelumnya.
Nabi Ayub gembira melihat isterinya kembali, namun ia ingat sumpahnya yaitu ingin memulus isterinya seratus kali. Ia harus melaksanakan sumpah itu. Kini ia bimbang, isterinya sudah turut menderita sewaktu bersama-sama dengannya selama tujuh tahun ini, akankan ia memukulnya seratus kali.
Dalam kebimbangan datanglah wahyu Allah yang memberikan jalan keluar. Firman Allah : ”Hai Ayub, ambillah lidi seratus buah dan pukullah isterimu itu sekali saja, dengan demikian tertebuslah sumpahmu”
Yang dengan lidi seratus, dipukullah pelan sekali, maka sumpahnya sudah terlaksana. Berkat kesabaran dan keteguhan imannya Nabi Ayub dikaruniai lagi harta benda yang melimpah ruah. Dari Rahmah ia mendapat anak bernama Basyar, dikemudian hari ia mendapat julukan Dzulkifli artinya : Punya sanggup, Dzulkifli akhirnya juga menjadi Nabi dan Rasul. (Maftuh Ahsan,1989:70-74)

Hadirin Yang Dirahmati Allah SWT
Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al Madkhali juga mengatakan, ”Macam ketiga dari macam-macam kesabaran adalah bersabar dalam menghadapi takdir dan keputusan Allah serta hukum-Nya yang terjadi pada hamba-hamba-Nya. Karena tidak ada satu gerakan pun di alam raya ini, begitu pula tidak ada suatu kejadian atau urusan melainkan Allah lah yang mentakdirkannya. Maka bersabar itu harus. Bersabar menghadapi berbagai musibah yang menimpa diri, baik yang terkait dengan nyawa, anak, harta dan lain sebagainya yang merupakan takdir yang berjalan menurut ketentuan Allah di alam semesta. orang yang tidak bersabar, maka dia berhak menerima balasan darinya, berupa celaan dari Allah, siksaan, kesesatan serta kerugian. Betapa jauhnya perbedaan antara kedua golongan ini. Betapa kecilnya keletihan yang ditanggung oleh orang-orang yang sabar bila dibandingkan dengan besarnya penderitaan yang harus ditanggung oleh orang-orang yang protes dan tidak bersabar.
Firman Allah SWT dalam surat az Zumar ayat 10:
                        

Artinya: ”Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. az Zumar: 10)

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar pahala untuk mereka yang tanpa hitungan, artinya tanpa batasan tertentu maupun angka tertentu ataupun ukuran tertentu. Dan hal itu tidaklah bisa diraih kecuali disebabkan karena begitu besarnya keutamaan sifat sabar dan agungnya kedudukan sabar di sisi Allah, dan menunjukkan pula bahwa Allah lah penolong segala urusan”. (Abdurrahman bin Nasir 2002:76)
Sedangkan balasan orang –orang yang mau ber buat sabar adalah seperti halnya tertulis dalam al- qur’an, surat ar Ra’du ayat 23-24:
•                         

Artinya: ”(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. (QS. ar Ra’du: 23-24)
Hadirin Yang Dirahmati Allah SWT.
Disinilah setelah ada beberapa hal yang melekat dalam diri manusia, yaitu betapa pentingnya sebuah kesabaran yang berperan menyelimuti kehidupan sehingga kita mendapatkan rahmatnya Allah SWT.(Ahmad Mahir,2009:85-86). Untuk itu marilah kita bersama-sama menegakkan rasa kesabaran dalam berbagai ujian dan cobaan dan marilah kita saling menasehati untuk memupuk sifat sabar yang mana dalam lingkup kehidupan kita sehari-hari sangat berperan sekali, didalam firman Allah al Qur’an surat al Asr yang berbunyi:
  •              
Artinya: ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS. al ’Ashr: 1-3)

Dari ayat tadi yang paling pokok adalah pada ayat ke 3
   
Yaitu mentaati kesabaran dan saling menasehati dalam berbagai hal agar bisa merasa sebuah kesabaran. Kiranya Sampai disini dulu, mudah-mudahan kita dipertemukan oleh Allah di kegiatan yang lain dan apabila dari awal hingga akhir terdapat kesalahan, kekeliruan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
ولسّلام عليكم ورحمة لله وبركاته

DAFTAR PUSTAKA

Ahsan, Maftuh, 1989, Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul, Surabaya: Bintang Pelajar
Mahir, Ahmad, 2009, Rahasia Istana Surga, Surabaya: Pustaka Elba
Nasir, Abdurrahman, 2002, Tafsir Karimurrahman, Surabaya: Pustaka Elba.
Umar, Nawawi, 2002, Nasihat Bagi Hamba Allah, Surabaya: Al-Hidayah






























MENGEMBANGKAN IPTEK DI ERA MODERN
(Disampaikan Dalam Acara Kajian Interaktif Pelajar, Remas Khusnul Khotimah Surabaya Tgl. 25 Oktober 2009)
OLEH: KHOLID NOVIYANTO (B01207010)

السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنياوالدين. والصلاة والسلام على اشرف المرسلين. وعلى اله واصحابه اجمعين. امابعد.
Yang saya hormati ketua Remas Khusnul Khotimah dan para hadirin yang berbahagia.
Di saat Allah menciptakan manusia pertama kali di bumi. Dan menjadikan ia sebagai seorang khalifah di bumi, para malaikat berdialog kepada Allah. Kata malaikat “Wahai Allah apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di bumi, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan mensucikan Namamu?” Kemudian Allah menjawab, “Sungguh Aku yang mengetahui Apa yang tidak kamu ketahui”. Dalam dialog itu, akhirnya Allah menciptakan Nabi Adam dan mengajari ilmu pengetahuan kepadanya, pengajaran itu mencakup ilmu pengetahuan alam. Semua Allah mengajarkan kepadanya, sampai terakhir ia diperlihatkan kepada malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepadaKu nama-nama semua benda ini, jika kamu yang benar, ini Nabi Adam dites oleh malaikat. Jadi setelah Allah mengajari kepada Adam tentang suatu pengetahuan, malaikat mengajakan uji coba kepada Nabi Adam. Kemudian Allah berfirman, “Wahai Adam! beritahukanlah kepada mereka nama-nama itu!”. Disaat itulah Nabi Adam menyebutan apa yang ditanyakan oleh para malaikat, wahai Adam ini namanya apa? dengan kecerdasan Nabi Adam menjawab secara tepat dan benar sehingga mereka heran dengan Nabi Adam. Disaat inilah, Allah kemudian berfirman, ”Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku telah mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?” Setelah itu malaikat percaya dengan datangnya Nabi Adam untuk dijadikan khalifah (pemimpin) di muka bumi. Lalu perintah datang kepada malaikat untuk bersujud kepadanya. (Maftuh Ahnan, 1989: 15), dalam firman Allah Surat Al-Baqarah Ayat 30-33:
                     •                                   •                            

Artinya: ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?". (QS. Al-Baqarah: 30-33)

Hadirin yang saya hormati
Dalam cerita Nabi Adam, memuat pengetahuan yang mana ada sebuah pemahaman disaat Allah mengajarkan suatu benda kepada Nabi Adam, ini menunjukkan sebuah pengetahuan dan disaat itu teknologi pertama kali muncul. Mengapa demikian?
Disaat Allah menunjukkan matahari bentuknya bulat dan panas, Nabi Adam berfikir jadi rasa yang panas ini dapat mengeringkan semua benda, akhirnya dimanfaatkan matahari itu oleh Adam, inilah yang dikatakan teknologi. Kemudian berkembang lagi kepada anak turun Adam, setelah mengetahui panasnya matahari itu bisa dimanfaatkan oleh hal tersebut. Anak Adam juga berfikir, Apakah hanya matahari saja yang bisa mengeluarkan panas? Panas itu terjadi karena apa? hal ini terus dipelajari oleh manusia sebagai pengetahuan dan teknologi. Setelah dipelajari, muncul yang namanya elemen yang terbentuk dari energi kalor, ini juga teknologi.

Hadirin yang saya hormati
Terus bagaimana teknologi itu bisa berkembang?, teknologi bisa berkembang karena manusia selalu berfikir tentang pengetahuan. Pengetahuan tidak akan terwujud sebelum pemikiran itu ada, tanpa terasa didalam al Qur’an kita selalu diingatkan oleh Allah dengan kalimat ( افلا يتفكرون ) banyak kalimat-kalimat ini dilontarkan oleh Allah, supaya manusia dapat berfikir tentang ciptaan Allah. (Imam Syafi’i, 2000: 135)

Hadirin yang saya hormati
Setelah manusia berfikir untuk bisa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada kewajiban manusia untuk belajar dan mengamalkan ilmunya. Sudah banyak disinggung dari bahasan tadi, manusia hidup di dunia ini tidak ada artinya tanpa ilmu pengetahuan supaya manusia mempunyai arti hidup di dunia ini, terlebih lagi harus dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah yang baik dimuka bumi ini. Maka wajiblah bagi manusia untuk selalu belajar agar wawasannya bertambah serta dapat menciptakan sebuah ilmu pengetahuan dan teknologi yang baik. Kewajiban belajar ini akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang bahagia, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. kebahagiaan di dunia akan dapat diperoleh karena ilmu yang dipelajari akan membawa manusia kepada kemampuan mengolah kekayaan alam pemberian Tuhan. Sedangkan kebahagiaan di akhirat akan dapat diperoleh karena orang yang mau belajar berarti akan menjadi orang yang berilmu dan orang yang berilmu selalu akan takut kepada Allah, sehingga selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Kuasa. Apalagi kalau ilmu yang dipelajari adalah ilmu untuk kepentingan hidup di dunia ini (yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi) dan juga ilmu untuk kepentingan hidup di akhirat nanti (yaitu ilmu agama). (Wisnu Arya Wardhana, 2004: 34-36)
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, seringkali menjadikan manusia lupa kepada Tuhannya dan menjadi sombong seolah-olah apa yang telah dicapainya itu adalah karena penguasaan ilmu pengetahuan yang bisa diraih oleh manusia. Manusia lupa bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah pemberian Tuhan, tanpa rahmat dari Allah mustahil manusia dapat menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan baik. Oleh karena itu demi keseimbangan antara kepentingan dunia dan kepentingan akhirat.

Hadirin yang saya hormati
Kita harus selalu befikir tentang ciptaan Allah seraya untuk mengembnagkan IPTEK khususnya sebagai orang Islam, jangan sampai dunia seisinya ini dikuasai oleh non muslim.kita harus belajar dengan sungguh-sungguh agar punya banyak pengetahuan,supaya kita sebagai orang islam mempunyai keahlian dalam bidang IPTEK.
Sampai disini dulu mudah-mudahan kita dipertemukan oleh Allah di kegiatan yang lain. Dan apabila dari awal hingga akhir terdapat kesalahan, kekeliruan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
ولسّلام عليكم ورحمة لله وبركاته

DAFTAR PUSTAKA

Ahsan, Maftuh, 1989, Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul, Surabaya: Bintang Pelajar
Irwandar, 2003, Demitologisasi Adaam dan Hawa, Yogyakarta: Arruz Media Press
Syafi’i, Imam, 2000, Konsep Ilmu Pengetahuan, Yogyakarta: UI Press
Wardhana, Wisnu Arya, 2004, al Qur’an dan Energi Nuklir, Yogyakarta: Pustaka Pelajar



BAB X
SILATURRAHIM

HIKMAH SILATURRAHIM
(Disampaikan dalam peringatan hala bi halal di masjid jami’ Attaqwa desa sekaran lamongan)
Oleh : Kholid Noviyanto (B01207010)

السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنياوالدين. والصلاة والسلام على اشرف المرسلين. وعلى اله واصحابه اجمعين. امابعد.
Yang saya muliyakan,para alin ulama’ para kiyai,para ust dan ustadzah.yang terhormat bpk kepala desa sekaran.dan para hadirin yang berbahagia.
Para Hadirin yang dirahmati Oleh Allah.
Didalam acara halal bi halal ini, sudah menjadi tradisi yang dilaksanakan oleh bangsa kita,terutama umat islam.dengan tujuan apa?tiada lain yaitu untuk memperkuat tali persaudaraan kita,serta terjalinlah persaudaraan yang lebih akarab diantara sesama kita.kemudian disinilah muncul yang namanya istilahsilaturrahmi,apa silaturrahmi itu?kita sering kan mendengar kata-kata ini.bahkan ini bukan mejadi asing lagi bagi kita.
Silaturrahmi itu adalah :suatu kegiatan yang dilakuakan oleh sesama manusia atau antara manusia satu dengan manusia yang lain.dengan tujuan untuk menjalin rasa persaudaraan antara sesama.atau dikatakan saling menghubungi serta menggunjungi antara satu dengan yang lain. Contohnya: kita punya keluarga yang mana dulunya keluarga ini tinggal bersama sama,suatu ketika salah satu orang dari keluarga kita. kakak kita misalnya menikah dengan orang yang daerahnya jauh sekali dari kita,sekian lama kita ditinggal bagaimana perasaan kita para hadirin?kalau ni orang yang fikirannya normal,pasti punya rasa kangen ,rasa ingin bertemu kembali,rasa ingin berkunjung,rasa saling untuk meminta maaf jika ada kesalahan dsb.disinilah silaturrahmi sangat berperan dalam kehidupan manusia.agar terjalinlah suatu hubungan persaudaraan yang lebih akrab diantara sesama kita.
Para hadirin yang dirahmati oleh allah.
Bentuk atau wujud pengamalan silaturrahmi itu adalah ibarat hewan semut. semut yang selama ini kita anggap remeh,ternyata ada sebuah pelajaran yang sangat berharga,yang semestinya perlu kita contoh. coba teliti mengenai kehidupannya.Ketika berjalan dia selalu serempak bersama-sama dengan yang lainnya. dan jika ada semut yang berjalan sendirian, pasti dia lari kesana kemari untuk mencari teman.sebab ia takut disaat jalan sendirian, kemudian para semut-semut itu disaat bertemu dengan teman yang lain. pasti langsung memberikan salam,dengan cara apa? Yaitu dengan merangkul,sebab jalan yang dituju Cuma satu arah tentu semut ini bertabrakan. tabrakan inilah yang mrnghubungkan silaturrahminya mereka.makanya semut itu kehidupanya saling rukun antara satu dengan yang laian sehingga selalu ada kebersamaan dalam hidup mereka.contoh: pernakah kita melihat semut makan sesuatu sendirian?jarangkan! pasti mereka selalu bersama sama. Artinya apa?artinya terjalinlah sebuah persaudaraan yang kokoh pada diri semut. para hadirin percaya nggak dengan apa yang dilakuakan semut? nanti hadirin bisa buktikan. amati betul betul.tentang semut itu.
Para hadirin yang dirahmati oleh allah.
Dari cerita mengenai kehidupan semut tadi,ada sebuah Pelajaran yang dapat kita ambil untuk dijadikan sebuah contoh dalam penerapan hidup kita. bahwa binatang semut tadi adalah merupakan salah satu contoh untuk menjalin hubungan silaturahmi. Hal yang diperbuat oleh semut tadi. kalau kita fahami secara jelas dan mendalam pertama: disaat mereka saling bertemu di jalan, mereka saling merangkul yang satu dengan yang lain..Artinya adalah: di saat kita bertemu dengan saudara-saudara kita. Alangkah baiknya kita saling tegur sapa. Kedua: disaat para semut mendapat makanan pasti teman-temannya dipanggil.artinya adalah: sama halnya dengan kita.disaat kita mendapatkan nikmat dari Allah SWT. jangan lupa dengan tetangga kita, kerabat kita, saudara-saudara kita, dengan adanya hal semacam inilah kehidupan kita menjadi tentram, damai dan sentosa sebab hubungan silaturahmi kita selalu terjaga.
Para hadirin yang dirahmati oleh allah
Disinilah ada beberapa hikmah tentang silaturrahmi dalam kehidupan kita.diantaranra adalah :
a. Menambah kecintaan kita terhadap sesama
Artinya apa?artinya adalah:bahwa semakin seringnya kita silaturrahmi kepada saudara kita,tetagga dan seluruh kerabat kita maka disinilah letak timbulnya rasa kecintaan atau kesukaan terhadap sesama.misalnya:dalam warga setempat kita ada 25 tetangga. Dari 25 tetangga ini setiap hari kita bertemu saling tegur sapa,saling berjunjung saling tolong menolong.dari hal yang semacam inilah kalau dilakukan terus menerus tentu secara langsung pasti akan timbul rasa kecintaan.terhadap sesama.
b. Mengeratkan persaudaraan
Maksudnya adalah:ketika kegiatan silaturrahmi ini menjadi sebuah kebiasaan bagi kita. tidak akan terasa bahwa. rasa persaudaraan kita akan semakin kuat.disaat kita mendapat musibah pasti saudara yang lain akan membantu.sebab jalinan yang sangat erat.disaat kita mendapatkan malasah yang lain pasti membantu untuk menyelesaikannya.jadi semakin seringnya silaturrahmi tali persaudaraan kita semakin erat.
c. Mendapatkan keridhoan Allah SWT dan derajad yang mulia
Sebab Allah menyuruh dan menganjurkan untuk bersilaturrahmi agar terjalin sebuah kerukunan perdamaian antar sesama dan terjalin sebuah ukhuwah Islamiyah.sebagaimama dan sesungguhnya hakikat kehidupan manusia adalah bersaudara saling membutuhkan satu dengan yang lain kalu hal ini selalu ada dalam diri manusia tentu.tentu keridohan allah akan selalu ada untuk nya. (abdullaist assamarqandi, 1987:85 )Ingat kalau Allah sudah meridhoi maka cepat-cepat kita laksanakan. Raih cintanya Allah untuk mendapatkan surganya.Amin Allahumma Amin.
Rasulullah SAW. Bersabda didalam haditsnya.disaat beliau memberi tahu para sahabatnya, beliau bersabda :
ألا اخبركم باافضل من درجة الصلاة, والصيام والصدقة؟ قالو. قال اصلاح ذات البين وفساذات البين هي الحالقة

Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang hal yang lebih utama derajatnya selain ibadah sholat, puasa dan sedekah? Kemudian para sahabat menjawab ”tentu” Nabi bersabda hal itu adalah memperbaiki hubungan, silaturrahmi yang lama kian mengikis..
Hadirin yang dirahmati oleh allah
Rosulullah SAW pernah bercerita kepada para sahabatnya.sebelum bercerita rosul bertanya kepada sahabatnya.”wahai sahabatku siapakah yang dikatakan orang rugi itu? kemudian para sahabat menjawab:”saya mengerti ya rosul,orang yang merugi adalah:orang yang disaat berdagang tidak dapat apapa-apa malah hartanya berkurang ya rosul” kemudian rosulullah muhammad berkata :”bukan itu wahai sahabatku:orang yang rugi adalah: orang yang tatkalah didunianya mempunyai banyak amal ibadah akan tetapi diahiratnya besok habis karena diminta orang orang banyak yang mana dulu pernah dirugikan dan belum ada saling memaafkan serta orang yang pernah di rugikan atau disakiti hatinya.tidak terima. Kemudian para sahabat terkejut dan berkata: oh begitu ya rosulullah,jadi asalnya orang itu mau masuk surga akan tetapikarena amalnya habis kemudian masuk neraka yarosulullah. Kemudian rosulullah menjawab:”Benar wahai sahabatku” (Khid Hidayat,2002 :68) Maksud dalam cerita ini adalah:jangan sampai ketika didunia kita punya kesalahan terus tidak mau meminta maaf kepada orang yang kita salahi.artinya. kita bisa selesaikan hal inidengan jalan bersilaturrahmi kepada orang yang pernah kita musuhi dg meminta maaf disinilah banyak hikmah yang bisa diambil dari silaturrahmi itu sendiri.kalau hal ini bisa kita laksanakan tentu surganya allah menanti dihadapan kita.

d. Memupuk rasa cinta dikalangan famili
Karena kita seringnya silaturrahmi maka akan terbentuk rasa cinta kebersamaan saling membutuhkan. Misalnya : didalam hidup kita yang mana kita hidup saling bertetangga. Antara sebelah kanan kiri depan belakang ini merupakan tetangga kita semua. Kalau kita sering berhubungan sering bersilaturrahmi antara satu denga yang lain. Maka lama-kelamaan akan terbangun sebuah rasa kecintan. Misalnya tetangga A butuh bantuan memasang genteng rumah, karena sudah ada keakraban dengan tetangga yang disebelah tidak usah bilang, dia tahu bahwa gentengnya bocor mau diganti secara langsung, ia langsung turun tangan. Manfaat rasa kebersamaan seringnya menjaga silaturrahmi.
Bertambahnya pahala di saat hidup dan mati.serta rizki dan umur yang barokah
Kita ingat semakin akrabnya kita dengan muslim dengan muslim yang lain karena kekerabatan. Silaturrahmi maka pahala kitapun juga semakin banyak. Apakah kita masih hidup atau mati keberkahan rizki kita, keberkahan umur kita, karena banyaknya orang yang mendoakannya.
Para hadirin yang dirahmati oleh allah
Dalam kegiatan acara halal bi halal ini dapat kita manfaatkan untuk mempererat tali silaturrahmi sebab hal ini merupakan hal yang sangat penting sekali untuk mempererat Ukhuwah Islamiyah kita. Disamping itu banyak hikmah yagn dapat kita petik dalam silaturahmi. Oleh karena itu mari kita bersama-sama mempererat tali persaudaraan kita, ingat kita sesama muslim adalah saudara yang mana ibarat salah satu tubuh kita ada yang sakit. Maka anggota tubuh yang lain ikut juga sakit. Makna dari silaturrahmi adalah bagaimana kita menjalin hubungan persaudaraan antara sesama muslim. Mudah-mudahan seklumit kata ini bisa bermanfaat bagi kita semua.didalam kitab wasiyatul arabi di jelaskan berhatihatilah jangan bertemu dengan musuh artiya mari kita bersama sama mempererat tali persaudaraan lewat silaturrahmi.
(Kurniawan irwan,2003:72)
Sebelum acara ini kita akhiri mari didalam kesempatan ini kita memohon ampun kepada Allah SWT. Atas segala dosa yang kita perbuan lewat bacaan Istighfar.
Sampai disini dulu mudah-mudahan kita dipertemukan oleh Allah di kegiatan yang lain. Dan apabila dari awal hingga akhir terdapat kesalahan, kekeliruan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
ولسّلام عليكم ورحمة لله وبركاته


DAFTAR PUSTAKA



Assamarqandi Abulaist.1992.tanbihul ghofilin.surabaya,bina ilmu
Shadri Ahmad.2008. Miatu hadist lilhafidz.surabaya,pustaka elba
Kurniawan irwan. 1996.wasiyat wasiyat ibnu arabi,pustaka hidayah
Hidayat Kidh.2002.Tiga puluh dongeng sebelum tidur.Surabaya,Mitra umat.















MERAIH PREDIKAT KESUCIAN
(Disampaikan dalam Acara Khutbah Idul Fitri. Masjid Al-Hidayah. Surabaya. Tgl. 23 Oktober 2010)
Oleh : Kholid Noviyanto (B01207010)
السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الله اكبر ... x9 لااله الاالله والله اكبر, الله اكبر ولله الحمد, الله اكبر والحمدلله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا. لااله لاالله وحده صدق وعد ونصر عبده واعزجنده وهزم الاحزاب وحده, لااله لاالله ولانعبد الا إياه مخلصين له الدين ولوكره الكافرون.
الحمدلله الذى جعل هذاليوم عيدا وسعادة للمسلمين, وختم به شهر رمضان المبارك الذي كتب فيه الصيام للمؤمنين, وأنزل فيه القران هدى للمتقين. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له ,واشهد ان محمدا عبده ورسوله لانبي بعده. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله ةاصحابه والذين جاهدوافى سبيله حق جهاده الى يوم القيامة. امابعد. فياايهاالمسلمون. اتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. ولتكملوا العدة ولتكبرالله على ماهداكم ولعلكم تشكرون.
Ramadhan telah kita lalui, pada hari ini umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangannya. Gema takbir, tahlil dan tahmid berkumandang dimana-mana, di seluruh jagad raya alam semesta ini, bersatu padu dalam irama membesarkan Allah, memuji dan mensucikan-Nya, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat telah Allah anugerahkan, terutama dapat meraih kemenangan di hari yang fitri ini. Mengungkapkan syukur atas hidayah dan inayah Allah yang begitu besar karena telah berhasil mengikuti rentetan ibadah pada bulan Ramadhan sebagai jaminan untuk mendapatkan ganjaran dan ampunan.
Dengan berakhir dan berlalunya bulan Ramadhan dan rangkaian ibadah yang ada di dalamnya; ada dua perasaan yang memuncak dalam jiwa setiap umat; perasaan al-khauf war raja…
Ada perasaan harap dan gembira yang melekat dalam benak kita, senang dan suka cita yang merasuk ke dalam dada, karena setelah selesainya bulan Ramadhan jiwa kita –insya Allah- dikembalikan kepada jati diri yang bersih tanpa noda dan dosa sama seperti saat kita baru dilahirkan dari rahim ibu kita dulu, menjadi fitri (suci) kembali, Begitu pun ada rasa senang dan gembira karena janji, rahmat, keberkahan, pahala yang berlimpah yang telah disediakan oleh Allah bagi yang berhasil menunaikan ibadah pada bulan Ramadhan, tentunya kita bisa membayangkan dalam diri kita masing-masing saat kita menunaikan ibadah Ramadhan; baik puasanya, qiyamnya, tilawahnya, sedekahnya, dan lain sebagainya.dalam sebuah kisah diceritakan. Ketika Allah melihat salah satu bentuk, dimana Allah Swt memperlihatkan kepada hamba â hambaNya bahwa Allah melihat semua perbuatan yang terkecil sekalipun. Maka disaat itu datanglah tamu kepada Sang Nabi saw dan Sang Nabi saw tidak bisa menjamunya karena tidak ada makanan.
Rasul tanya pada istrinya “punya makanan apa kita untuk menjamu tamu ini?”,
istri Nabi saw menjawab “tidak ada, yang ada cuma air”.
Maka Rasul berkata siapa yang mau menjamu tamuku ini? Satu orang anshar langsung mengacungkan tangan aku yang menjamu tamumu ya Rasulullah. Bawa ke rumahnya, sampai dirumah mengetuk pintu dengan keras hingga istrinya bangun.
Kenapa suamiku? kau tampak terburu â buru. “akrimiy dhaifa Rasulillah” kita dapat kemuliaan tamunya Rasulullah. Ayoo.. muliakan, keluarkan semua yang kita miliki daripada pangan dan makanan, semua keluarkan. Ini tamu Rasulullah bukan tamu kita, datang kepada Rasul, Rasul saw tidak bisa menyambutya.
Rasul tanya “siapa yang bisa menyambutnya?”, aku buru - buru tunjuk tangan, ini kemuliaan besar bagi kita.
Istrinya berkata “suamiku, makanannya hanya untuk 1orang. Tidak ada makanan lagi, itu pun untuk anak â anak kita. 2 orang anak â anak kita hanya akan makan makanan untuk 1 orang, kau ini bagaimana menyanggupi undangan tamu Rasul? kau tidak bertanya lebih dulu? apakah kita punya kambing, punya ayam, punya beras, punya roti, jangan main terima sembarangan!”
Maka suaminya sudah terlanjur menyanggupi “sudah kalau begitu anak kita tidurkan cepat â cepat, matikan lampu agar anaknya tidur”. “belum makan, suruh tidur jangan suruh makan malam, biar saja”.
Ditidurkan anaknya tanpa makan. Lalu tinggal makanan yang 1 piring untuk 1 orang, “ini bagaimana? tamunya tidak mau makan kalau hanya ditaruh 1 piring kalau shohibul bait (tuan rumah) tidak ikut makan karena cuma 1 piring makanannya”.
Suaminya berkata “nanti sebelum kau keluarkan piringnya, lampu ini kau betulkan lalu saat makan tiup agar mati pelitanya, jadi pura â pura lampu mati. Taruh piring, silahkan makan dan kita taruh piring kosong di depan kita, tamu makan kita tidak usah makan tapi seakan â akan makan dan tidak kelihatan lampunya gelap”.
Maka tamunya tidak tahu cerita lampunya mati, pelitanya rusak, tamunya makan dengan tenangnya, nyenyak dalam tidurnya, pagi â pagi shalat subuh kembali kepada Rasul saw “Alhamdulillah ya Rasulullah aku dijamu dengan makanan dan tidur dengan tenang”. Rasul berkata “Allah semalam sangat ridho kepada shohibul bait (tuan rumah) yang menjamumu itu” (shahih Bukhari). Allah tersenyum, bukan Allah itu seperti manusia bisa tersenyum tapi maksudnya Allah sangat sayang dan sangat gembira. Dengan perbuatan itu Allah sangat terharu, bukan terharu karena tamunya saja tapi juga karena shohibul bait berucap. “akrimiy dhaifa Rasulillah” muliakan tamu Rasulullah. Ini yang membuat Allah terharu, untuk tamunya Rasulullah rela anaknya tidak makan, tidur semalaman dalam keadaan lapar untuk memuliakan tamunya Rasulullah saw. (Maftuh Ahsan, 1989: 75)
Adapun kebahagiaan yang paling berharga adalah saat kita berjumpa nanti dengan Allah oleh karena puasa yang telah kita jalankan selama 1 bulan penuh. Fa marhaban yang syahru syiyam, syahru rahmah wal maghfirah, syahru A-Quran wa syahru ni’mah wal barakah.
Namun pada sisi lain kita juga merasa sedih atas berlalunya bulan Ramadhan; sedih karena dengan berlalunya bulan Ramadhan berarti kita akan kembali kepada kehidupan yang biasa, dan kita tidak mengetahui apakah kita akan bersua kembali dengan bulan Ramadhan pada tahun mendatang.
Sedih karena kita khawatir apakah segala amal ibadah kita pada bulan Ramadhan tersebut dapat diterima oleh Allah SWT sehingga kita menjadi orang yang di cap oleh Allah dengan orang yang merugi dan celaka.
Na’udzubillah min dzalik, kita berharap dan memohon kepada yang Maha Kuasa, semoga Allah menerima segala amal ibadah kita, dilimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta di masukkan ke dalam hamba yang mendapatkan janji-Nya, yaitu surga. Digiring oleh Allah pada golongan hamba-hamba yang masuk ke dalam surga oleh karena puasa dan ibadah kita. (Fuad Fahrudin, 1989: 86)
Allah berfirman:
  •   • •  •                        •       
” Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya Telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang Telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan Telah (memberi) kepada kami tempat Ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki; Maka syurga Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (QS. Az-Zumar: 73-74)

Ma a’syiral muslimin Rahimakumullah
Bulan Ramadhan selain memiliki keutamaan dan keistimewaan adalah merupakan sarana pendidikan dan pembinaan yang luhur dan komprehensif, baik untuk pembinaan ruhiyah (spiritual), jasadiyah (jasmani), ijtima’iyah (sosial), khuluqiyah (akhlaq) dan hadloriyah (peradaban) serta jihadiyah pada diri umat Islam. Ibaratnya sebuah lembaga pendidikan, para siswa digembleng, dididik dan dibina dengan begitu ketatnya, sehingga kelak setelah lulus dari lembaga tersebut menjadi pelajar yang berprestasi dan unggul serta berdaya guna. Mereka di didik dengan materi yang baik, ditempa dengan pembinaan yang maksimal dan kurikulum yang jelas. Kelak mereka menjadi sosok yang bukan saja memberikan maslahat untuk dirinya namun juga bermanfaat untuk keluarga, lingkungan dan negaranya.
Begitu pun dengan Ramadhan yang telah kita jalani, merupakan sarana pendidikan rabbani, kurikulumnya adalah kurikulum ilahi, dan manhajnya adalah manhaj rabbani yang bersumber dari sang pemilik dan pengatur jagad raya alam semesta dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya, sehingga –diharapkan- setelah keluar dari madrasah Ramadhan lahir sosok pribadi muslim yang mumpuni, memiliki syakhshiyah islamiyah mutakamilah mutawazinah (sosok pribadi Islami yang komprehensif dan seimbang) tidak hanya berjiwa bersih, berbadan sehat dan bugar, dan berakhlaq mulia, namun juga memberikan pelajaran dan pendidikan sosial dan berperadaban, serta tidak hanya memberikan kebaikan kepada dirinya sendiri namun juga memberikan kebaikan dan perbaikan kepada lingkungan dan masyarakat sekitar.
Bahwa untuk mencapai tingkat kualitas yang mulia (At-taqwa) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, namun ia butuh proses yang harus ditempuh oleh setiap mukmin, selain harus melandasi dengan keimanan, namun juga menempuh proses berat sehingga mampu memberikan output yang baik dan mulia. (Muhammad Rusli Malik, 2003: 146)
Begitulah ketika Allah menginginkan derajat taqwa yang akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya; landasannya iman, prosesnya ibadah puasa dan hasilnya taqwa.
Kalaulah kita mau menelaah lebih dalam maka akan didapati dalam bulan Ramadhan pelajaran yang begitu penting dan hikmah yang banyak, sehingga ketika seseorang memahaminya maka boleh jadi mereka berharap agar bulan-bulan lainnya dalam satu tahun dijadikan bulan Ramadhan.
Adapun inti dari pendidikan dalam bulan Ramadhan adalah sebagai berikut :
1. Puasa merupakan madrasah ruhiyah (pembinaan spiritual)
Puasa berfungsi sebagai sarana tazkiyatunnafs (pembersihan jiwa), dimana orang yang berpuasa selain menjaga dirinya untuk tidak makan dan minum, juga di tuntut untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, melatih diri untuk menyempurnakan ibadahnya kepada Allah walau dalam keadaan lapar, bersikap jujur, menjaga dari ucapan yang kotor dan keji, sifat dengki dan hasad. Dimana dalam puasa juga ada hikmah yang memenangkan ruh ilahi atas materiil dan akal atas nafsu angkara murka.
2. Puasa merupakan madrasah jasadiyah (pembinaan jasmani)
Ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak hanya membutuhkan pengendalian hawa nafsu tapi juga membutuhkan kekuatan fisik. Dan puasa juga dari segi kesehatan akan membersihkan usus-usus, memperbaiki kerja pencernaan, membersihkan tubuh dari sisa-sisa endapan makanan, mengurangi kegemukan dan menenangkan kejiwaan atas aspek materiil yang ada dalam diri manusia.
3. Puasa merupakan madrasah ijtima’iyah (pembinaan sosial)
Puasa juga dapat membiasakan umat untuk hidup dalam kebersamaan, bersatu, cinta keadilan dan persamaan, melahirkan kasih sayang kepada orang-orang miskin, sehingga orang-orang yang mampu dan kaya merasakan apa yang di derita oleh orang-orang fakir dan miskin. Sebagaimana yang dikatakan oleh ibnul Qayyim : “Puasa dapat mengingatkan orang-orang kaya akan penderitaan yang dirasakan oleh orang-orang miskin”. Sehingga dari sinilah di harapkan timbul rasa persaudaraan dan solidaritas.
Sebagaimana dalam berpuasa juga ditanamkan sifat tenggang rasa dan solidaritas dalam kehidupan yang memiliki keragaman etnis, warna kulit dan ras, apalagi sesama muslim yang memiliki keragaman mazhab, kelompok dan golongan yang berasal dari keragaman pemahaman dalam mengambil intisari dari ajaran Islam. Perbedaan kelompok, mazhab dan golongan adalah merupakan hal yang lumrah, namun yang patut kita sadari bahwa dengan adanya perbedaan tersebut kita (umat Islam) tidak boleh terpecah belah dan tidak bersatu, namun hendaknya bisa dijadikan sarana untuk memupuk persaudaraan, dan membangun bangunan Islam agar lebih kokoh lagi, sehingga dengannya tidak akan terjadi saling gontok-gontokkan, mencela, menuding dan menghina karena hanya permasalahan sepele dan furu’ saja.
Islam mengharuskan adanya kesatuan pemahaman dalam masalah-masalah dasar aqidah, dasar ibadah dan dasar muamalah; sementara Islam mentolerir multi pemikiran dalam masalah-masalah cabang aqidah, cabang ibadah dan cabang muamalah. Kedua sisi ini bagaikan 2 sisi dari 1 mata uang yang tidak terpisahkan satu sama lain, tidaklah orang yang berusaha membebaskan semuanya ataupun menyatukan semuanya kecuali ia akan menyimpang dan terlepas dari jalan yang benar…
4. Puasa merupakan madrasah khuluqiyah (pembinaan akhlaq)
Puasa juga mendidik manusia untuk memiliki akhlaq yang mulia dan terpuji, sabar dan jujur serta tegar terhadap segala ujian dan cobaan, Dalam kehidupan ini, kita pasti akan berhadapan dengan berbagai rintangan, ujian dan cobaan, sehingga Allah akan melihat sampai dimana ketegaran kita dalam menghadapi berbagai rintangan, ujian dan cobaan tersebut.
Paling tidak ada 4 tujuan Allah memberikan kita berbagai cobaan dan ujian hidup;
1. Ujian Iman; siapakah yang tegar imannya dan siapakah yang hanya pura-pura dan palsu. Allah berfirman:
. (Al-Ankabut:2-3)
 ••     •      •           
“ Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

2. Ujian Mental; siapakah yang tawadhu dan angkuh terhadap nikmat Allah. Allah berfirman:
                 •                   •   
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (Al-Hadid:22-23)
3. Ujian Fisik; siapakah yang bersungguh-sungguh dan lemah dalam meraih nikmat Allah. Allah berfirman:
             ••             
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zhalim”. (Ali Imran: 140)
4. Ujian Sikap; siapakah yang optimis dan pesimis terhadap nikmat Allah. Allah berfirman:
•       •     •          
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (Al-Fajr:15-16)
Dan puasa adalah sebagai perisai yang mampu membentengi diri untuk bertahan dalam berbagai ujian dan cobaan hidup, dan alhamdulillah sekalipun terik matahari, panas yang menyengat, sehingga rasa haus yang menyekat tenggorokan kita mampu melewatinya, dan tentunya hal tersebut tidak bisa dianggap ringan, butuh usaha dan kesungguhan serta keimanan.
5. Puasa merupakan madrasah jihadiyah
Puasa juga merupakan sarana dalam menumbuhkan semangat jihad dalam diri umat, terutama jihad dalam memerangi musuh yang ada dalam jiwa setiap muslim; mengikis hawa nafsu, dan berusaha menghilangkan dominasi jiwa yang selalu membawanya kepada perbuatan yang menyimpang. (Solikhin Salam, 1988: 67-69)
Sebagaimana puasa juga menumbuhkan semangat jihad yang nyata, karenanya peperangan yang terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya kebanyakan di bulan puasa, dan justru dengan berpuasa mereka dapat lebih semangat dalam berjihad, karena dengan puasa hati terasa lebih dekat kepada Allah SWT dibanding hari-hari dan bulan-bulan yang lain, walaupun pada dasarnya Rasulullah saw dan sahabatnya tidak pernah merasa jauh dari Allah SWT. Dan bukan karena berpuasa orang lalu boleh bermalas-malasan atau tidur-tiduran. Namun yang lebih utama adalah kegiatan dan aktivitas orang yang berpuasa tidak kendor dan berkurang karena alasan sedang berpuasa, namun sebaliknya harus lebih ditingkatkan lagi, karena ganjaran orang yang melakukan kebaikan saat puasa Ramadhan bahwa pahalanya akan dilipat gandakan sepuluh kali lipat oleh Allah. Karena itu Allah SWT berfirman :
   •   •    
“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dijalan kami maka Kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami (jalan yang lurus)” (QS. 29 ayat 69)
6. Puasa merupakan madrasah hadlariyah (pendidikan peradaban)
Puasa juga sebagai wahana peradaban yang dapat memajukan kehidupan manusia yaitu bahwa puasa mendidik manusia untuk bersikap disiplin dengan waktu, seperti waktu sahur dan berbuka, saat waktunya telah habis untuk sahur maka wajib bagi yang akan berpuasa untuk menahan diri dari makan dan minum walaupun di hadapannya tersedia hidangan yang lezat.
Sebagaimana pula bulan Ramadhan mengajarkan untuk menjaga kesatuan umat Kesatuan umat merupakan kebutuhan yang mendesak. Akan tetapi perlu dipahami, kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan yang dikemas dalam bingkai Islam. Jika tidak, peluang musuh-musuh Islam kian besar mencerai-beraikan ummat melalui propaganda-propaganda mereka. Ada beberapa factor yang menjadi unsure pemersatu menuju terwujudnya kesatuan ummat.
Kesatuan aqidah (wihdatul Aqidah)
Kesatuan atas dasar aqidah, inilah factor utama yang tak boleh diabaikan. Hanya atas dasar aqidah Islam yang benar, tanpa kesyirikan, ummat ini terikat atau disatukan dalam buhul tali yang tidak akan putus oleh badai apapun.
Kesatuan ibadah
Kesatuan ibadah, yang hanya mengabdi kepada Allah, menjadi sangat penting sebagai cerminan dari kesatuan aqidah islamiyah. Kesatuan ibadah juga sangat mendesak segera terwujud, karena ia hanya mencerminkan seberapa besar penyerahan diri kita pada ketentuan-ketentuan Allah. Factor pengabdian yang benar dan Ikhlas inilah yang akan mengantarkan ummat menuju kejayaan dunia dan keselamatan akhirat. Islam adalah din yang lurus, yang tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus.
Kesatuan perilaku
Banyak disebutkan dalam al-Quran bahwa ummat Islam adalah ummat terbaik (Khairu ummah). Hal ini dikarenakan ketinggian akhlaq ummat Islam, sebagai cerminan kemuliaan aqidah islamiyah. Kualitas keislaman seseorang bias dilihat antara lain dari akhlaq dan kebiasaan sehari-hari. Dalam hal ini, ummat Islam sebagai ummat terbaik telah dituntun oleh Allah supaya berperilaku sebagaimana Rasulullah saw. Beliaulah manusia pilihan Allah sebagai teladan bagi seluruh ummat Islam seluruhnya dalam kerangka semangat beruswah hanya kepada Rasulullah saw. Kesamaan akhlaq, akan memperkokoh persatuan ummat. Secara fitrah, setiap manusia cenderung menyatu dengan individu lainnya yang memiliki kesamaan perilaku sehari-hari.
Adapun akhir dan puncak hikmah yang dapat di raih oleh orang yang melakukan puasa adalah mencapai derajat dan maqam taqwa di sisi Allah SWT, sebagaimana yang telah difirmankan Allah di penutup perintah-Nya kepada kaum beriman untuk berpuasa, “agar kamu bertaqwa”, karena dengan puasa kesehatan qalb (hati) dan jasad (jasmani) terjaga, sehingga tidak heran kalau syekh Yusuf Al-Qaradhawi menjadikan puasa itu sebagai madrasah mutamayyizah (lembaga pendidikan favorit) yang dibuka oleh Islam untuk menerima pendaftaran baru ; berkadar kurikulum Ilahi. Oleh karena itu, siapa saja yang mendaftarkan dirinya ke madrasah mutamyyizah ini, yaitu berpuasa dengan baik sebagaimana yang telah di gariskan Allah, kemudian mengamalkan sunnah-sunnah sebagaimana yang di syariatkan oleh Rasulullah SAW, maka dia telah sukses dalam menempuh ujian dan meraih tingkat dan level yang tinggi dan mulia di sisi Allah yaitu Taqwa. Dimana taqwa dalam kehidupan kaum muslimin merupakan benteng utama, bekal yang paling baik yang diperlukan oleh setiap manusia agar dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Dan taqwa dapat mengatasi segala problema dan urusan hidup di dunia dan memudahkan rezki. Serta amal ibadah yang lain. (Fuad Fahrudin, 1989: 89)
Semoga Idul Fitri tahun ini benar-benar membawa perubahan pada diri kita, kehidupan rumah tangga kita, masyarakat kita, pemerintahan kita, sehingga benar-benar menjadi bangsa yang “Baldatun Thoyibatun wa Robbun Ghofur”, bangsa yang makmur dan sejahtera pada semua lapisan masyarakatnya -bukan saja para pemimpin dan kaum elitnya saja- dan bangsa yang selalu mendapatkan lindungan, naungan, bimbingan dan ampunan Allah SWT.

اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
وسارعوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضهاالسموات والارض اعدت للمتقين.
بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكرالحكيم. وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هوالسميع العليم. اقول قولى هذاواستغفرالله لى ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات فيافوزالمستغرين ويانجاة التائبين.





DAFTAR PUSTAKA

Ahsan, Maftuh, 1989, Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul, Surabaya: Bintang Pelajar
Fahrudin, Fuad, 1989, Fatwa Penting Agama Islam, Surabaya: Pustaka Media
Rusli, Malik, 2003, Puasa Menyelimuti Arti Kecerdasan Intelektual, Jakarta: Zahra Publissing
Salam, Sholikhin, 1988, Butir-Butir Mutiara Hikmah, Surabaya: Pustaka Elba



























MERENUNGI MAKNA HAJI DAN QURBAN
(Disampaikan dalam Acara Khutbah Idul Adha Masjid Al-Hidayah. Surabaya. Tgl. 24 November 2009)
Oleh : Kholid Noviyanto

السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الله اكبر ... x9 لااله الاالله والله اكبر, الله اكبر ولله الحمد, الله اكبر والحمدلله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا. لااله لاالله وحده صدق وعد ونصر عبده واعزجنده وهزم الاحزاب وحده, لااله لاالله ولانعبد الا إياه مخلصين له الدين ولوكره الكافرون.
الحمدلله الذى انعمنابنعمة الايمان والاسلام. ووفقنابالاعمال والاحسان احمده سبحانه وتعالى حمد من يريد المزيدبالانعام. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له ,واشهد ان محمدا عبده ورسوله لانبي بعده. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله ةاصحابه والذين جاهدوافى سبيله حق جهاده الى يوم القيامة. امابعد. فياايهاالمسلمون. اتقواالله حق تقاته ولاتموتن الا وانتم مسلمون. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم. ولتكملوا العدة ولتكبرالله على ماهداكم ولعلكم تشكرون.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Hari ini kita sedang berada di musim haji. Jutaan manusia yang terpanggil oleh seruan Nabi Ibrahim as, hari ini sedang melaksanakan ibadah yang mulia ini. Sebentar bagi tetesan darah qurban akan membasahi persada bumi. Sebagaimana kita ketahui bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah. pastilah mengandung makna, bukan hanya filsafat yang hampa apalagi sandiwara yang sia-sia. Dia akan membuahkan nilai-nilai yang berguna baik bagi pribadi dan masyarakat apabila dilaksanakan secara benar sesuai dengan tuntunan-Nya. Marilah kita renungi makna yang terkandung dalam ibadah haji dan qurban ini. Salah satu makna terbesar yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian melambangkan pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan "batas" palsu yang tidak jarang menyebabkan "perpecahan" di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep "aku", bukan "kami atau kita", sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme. Penonjolan "keakuan" adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah.(Asep Purnama Bahtiar,2005:123).
   •                    

"Janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah agama mereka dan mereka menjadi beberapa partai. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka" (QS. Ar-Ruum 31-32)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Mulai dari miqat mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kapan pembungkus mayat yang terdiri dari dua helei kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Barat dan yang berasal dari Timur, mereka memakai pakaian yang sama, berangkat pada waktu dan tempat yang sama dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktifitas dengan aktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama.
Manusia yang tadinya terpecah-pecah dalam berbagai ras, nation, kelompok, suku dan keluarga dengan ibadah haji diphimpun oleh Allahdengan berbagai faktor kesamaan agar mereka menjadi satu. Hal ini mengisyaratkan bahwa segala problematika umat Islam akan dapat terselesaikan secara mendasar apabila mereka bersatu dan bersama-sama dalam bersikap dan berbuat, sebagaimana jawaban Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada Hudzaifah bin Yaman, ketika dia menanyakan bagaimana cara menyelesaikan problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Jama'ah merupakan wujud kebersamaan dan Imamah merupakan wujud kesatuan. (Fuad Fahrudin, 1989: 36)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Problematika umat Islam abad ini tidak lain karena mereka telah jauh dari ajaran Islam, telah jauh dari Al-Qur`an dan jauh dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Problema-problema umat Islam semakin hari semakin bertambah banyak dan kompleks. Inti dari problematika ini pada hakikatnya adalah krisis rohani yang sedang melanda umat Islam. Mereka tidak mengamalkan ajaran dan hukum Islam secara konsekuen sedang tokoh-tokoh Islam semakin jauh dari ajaran Islam. Mereka hanya menggunakan ajaran Islam untuk kepentingan pribadinya. Mereka tidak dapat memeberikan contoh yang baik bagi para pengikutnya. Pada akhirnya Islam tidak lagi dipercayai dapat menyelesaikan problematika umat manusia. Ini adalah akibat perilaku umat Islam, khususnya para tokohnya yang telah menyimpang dari ajaran Islam. Padahal sebenarnya di tangan umat Islamlah terletak tanggung jawab menyelesaikan problematika umat manusia sebagaimana yang dibuktikan umat Islam di masa kejayaannya ketika mereka konsekuen dengan ajarannya. Islamlah satu-satunya ajaran yang dapat menyelesaikan problematika umat manusia. Namun sayang umat Islam sendiri sedang menghadapi problema internal yang diakibatkan oleh perpecahan dan tersobek-robeknya kesatuan. Keadaan seperti ini akan terus berlangsung selama umat Islam masih tetap dalam perpecahan dan tidak berkehendak mencari jalan keluarnya.
Mudah-mudahan dengan merenungi makna ibadah haji ini umat Islam menjadi sadar, betapa pentingnya kebersamaan dan kesatuan dengan kembali menetapi Jama'ah Muslimin dan Imam mereka sebagaimana yang telah ditetapi oleh sebagian umat Islam sejak tahun 1372 H/1953 M dengan wujud Jama'ah Muslimin (Hizbullah).
Sedangkan kita yang telah berada di dalam Jama'ah hendaknya menyadari betapa besar tanggung kita dalam menyelesaikan problematika umat manusia dewasa ini. Jangan sampai merasa bahwa telah menetapi Jama'ah persoalan telah selesai. Menetapi al-Jama'ah baru merupakan langkah awal untuk menyelesaikan problematika-problematika besar lainnya yang menghadang umat Islam, seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan sebagainya. Oleh karena itu kaum muslimin yang sudah berada di dalam al-Jama'ah tidak boleh santai dan hanya main-main. Apabila tidak bersungguh-sungguh, pasti Allahakan mengganti dengan kaum yang lebih baik, yang mampu memikul tanggung jawab yang sangat besar ini.( Mustofa W. Hasim, 1993: 168 ). Allah berfirman:
                 •                      

"Hai orang yang beriman barangsiapa di antara kamu yang berbalik dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang beriman, yang bersikap keras kepada orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Maha Luas lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Maidah: 54).

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Kesatuan dan kebersamaan umat Islam akan terwujud apabila kita, di samping mampu menangkap makna ibadah haji, kita juga mampu menangkap makna ibadah qurban dan kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mempersatukan umat Islam memang tugas besar dan berat oleh karena itu membutuhkan pengorbanan yang besar dan berat pula. Sebagaimana kita ketahui ibadah qurban ini bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim agar menyembelih putranya semata wayang Nabi Ismail as. Dalam hal ini digambarkan oleh sebuah hadits sebagai berikut:
"Para sahabat bertanya, "apakah maksud qurban ini?" Beliau menjawab, "Sunnah Bapakmu, Ibrahim." Mereka bertanya, "apa hikmahnya bagi kita?" Beliau menjawab, "Setiap rambutnya akan mendatangkan satu kebaikan." Mereka bertanya, "Apabila binatang itu berbulu?" Beliau menjawab, "Pada setiap rambut dari bulunya akan mendatangkan kebaikan" (HR. Ahmad).
Diriwayatkan oleh para ahli tarikh, bahwa kehidupan Nabi Ibrahim adalah kehidupan penuh dengan perjuangan, keterlunta-luntaan, jihad dan perang melawan kebodohan kaumnya, kefanatikan penyembah berhala termasuk ayahnya sendiri, penindasan Namrudz sedang istrinya sendiri Sarah, yang mandul adalah seorang ningrat yang fanatik. Sebagai seorang nabi yang menyerukan Tauhid, Ibrahim melaksanakan tugas berat dalam sebuah masyarakat yang tiran dan penuh perlawanan. Namun setelah seabad lamanya menanggungkan segala macam derita dan siksaan, ia berhasil menanamkan kesadaran ke dalam diri manusia-manusia akan cinta kemerdekaan dan keberagamaan.
Setelah tua Ibrahim menjadi kesepian. Sebagai manusia ia ingin mempunyai anak. Istrinya mandul sedang ia sendiri telah berusia seabad lebih. Ia tidak berpengharapan. Ia hanya dapat mendambakan. Allah akhirnya melimpahkan karunia-Nya kepada lelaki tua ini karena ia telah mengabdikan seluruh hidupnya dan karena ia telah menanggungkan penderitaan demi menyebarluaskan syari'at-Nya. Melalui hamba perempuannya yang hitam dari Ethiopia yang bernama Hajar, Dia mengaruniai Ibrahim dengan seorang putra, Ismail. (Maftuh Ahsan, 1989: 76) Allah berfirman:
   

"Maka Kami gembirakan dia dengan seorang anak yang sangat penyantun" (QS. Ash-Shaffat: 101).

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Ismail bukanlah hanya seorang putra bagi ayahnya. Ismail adalah buah dambaan Ibrahim seumur hidupnya. Sebagai seorang putra tunggal dari seorang lelaki tua yang telah menanggungkan penderitaan berkepanjangan, Ismail adalah yang paling dicintai oleh ayahnya. Namun tanpa diduga, Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, harapan dan dambaan hidupnya yang paling dicintai itu. Betapa goncang jiwa Ibrahim ketika menerima perintah ini. Setelah perintah itu ia sampaikan kepada anaknya dan anaknya menerimanya, akhirnya kedua hamba Allah ini pasrah melaksanakan perintah Allah ini. Allah menggambarkan peristiwa yang sangat dramatis ini dengan firman-Nya:
                            

"Tatkala keduanya telah pasrah dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya. Dan Kami panggil dia. "Hai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpi (perintah) itu, sesungguhnya demikianlah Kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik" (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kemudian Allah menebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Dan inilah yang diabadikan dengan syari'at qurban hingga saat ini.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Jadi qurban adalah perlambang kesediaan seseorang untuk mengorbankan barang yang paling dicintai dalam rangka mengabdikan diri di jalan Allah. Untuk mewujudkan kesatuan umat dan mengatasi problematika umat ini memang membutuhkan pengorbanan, tanpa pengorbanan mustahil hal itu akan terwujud. Oleh karena itu marilah kita qurban harta kita, jiwa dan raga kita, harga diri kita, keluarga kita, waktu kita, profesi dan jabatan kita demi terwujudnya kesatuan umat dan terselesaikannya problematika yang melilit umat Islam dewasa ini. Jangan sampai barang-barang yang kita cintai tersebut menghalangi kita untuk berjihad mewujudkan perjuangan yang besar ini. Insya Allah apa yang kita qurbankan pasti akan diganti oleh Allah. Allah berfirman:
 •                     

"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya" (QS. Saba: 39).
Semoga kita mampu mengamalkannya, Amin Ya Robbal 'Alamin.
اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
ولتكملوا العدة ولتكبرالله على ماهداكم ولعلكم تشكرون.
بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكرالحكيم. وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هوالسميع العليم. اقول قولى هذاواستغفرالله لى ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات فيافوزالمستغرين ويانجاة التائبين.

DAFTAR PUSTAKA

Bahtiar, Asep Purnama, 2005, The Power of Religion, Bantul: Pondok Edukasi
Hasim, Mustofa, 1993, Haji Sebuah Perjalanan Air Mata, Jakarta: Benteng Interfisi Utama
Ahsan, Maftuh, 1989, Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rasul, Surabaya: Bintang Pelajar































AKHLAKUL KARIMAH
(Disampaikan Dalam Acara Khutbah Jum’at. Di Masjid Al-Hikmah Surabaya. Tgl. 28 November 2009)
Oleh : Kholid Noviyanto
السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته

الحمدلله الذى انعمنابنعمة الايمان والاسلام. ووفقنابالاعمال والاحسان احمده سبحانه وتعالى حمد من يريد المزيدبالانعام. اشهد ان لااله الا الله وحده لاشريك له الخالق المنان واشهد ان سيدنامحمدا عبده ورسوله المبعوث ليتم مكارم الاخلاق للانام. وعلى اله واصحابه مصابيح الضلم وقال الله تعال في القرأن الكريم بسم الله الرحمن الرحيم خذالعفوواءمربالعرف واعرض عن الجاهلين. امابعد – فياايهاالحضرون! اتقواالله واعبدوه لعلكم تفلحون.

Para hadirin sidang Jum’at yang berbahagia,
Seorang muslim yang bertakwa akan berimbas kepada budi pekertinya dan terpancar dlaam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Orang yang bertakwa, tentu ia menjauhi larangan-larangan Allah. Di mana, larangan-larangan itu juga dianggap buruk oleh masyarakat. Kemudian, ia senantiasa melakukan sesuatu yang baik. Di mana, Masayarakat akan memuji orang yang berbuat baik. Jadi, ketakwaan itu erat kaitannya dengan akhlakul karimah.
Para hadirin sidang Jum’at yang berbahagia,
Sesungguhnya yang menentukan tinggi rendahnya martabat itu tergantung pada budi pekertinya. Jika akhlaknya baik, budi pekertinya indah, maka ia akan mempunyai nilai lebih. Jadi perlulah disadari bahwa tinggi rendahnya martabat manusia bukan karena harta benda, jabatan, kedudukan, jumlah umat pengikutnya atau jumlah keluarganya. Banyak orang yang kaya tetapi hatinya miskin. Banyak orang yang berkedudukan tetapi akal dan budinya rendah. Tidak sedikit orang yang punya pengikut, punya umat, punya pendukung, namun kelakuannya busuk.
Budi pekerti yang baik disebut pula akhlakul karimah. Dan akhlakul karimah inilah yang menjadi tolok ukur martabat seseorang. Mengapa...? Sebab akhlakul karimah, budi pekerti yang baik itu, akan melahirkan butiran-butiran yang sangat berharga bagi seseorang yang bersangkutan. (Mahjudin, 1989: 26)
Akhlak yang baik ialah segala tingkah laku yang terpuji (mah{mu>dah) juga bisa dinamakan fadhilah (kelebihan). al Ghazali menggunakan perkataan munjiya>t yang berarti segala sesuatu yang memberikan kemenangan atau kejayaan. Akhlak yang baik dilahirkan oleh sifat-sifat yang baik. Oleh karena itu, dalam hal jiwa manusia dapat menelurkan perbuatan-perbuatan lahiriah. Tingkah laku dilahirkan oleh tingkah laku batin, berupa sifat dan kelakuan batin yang juga dapat berbelok-balik yang mengakibatkan berbelok-baliknya perbuatan jasmani manusia. Oleh karena itu, tindak tanduk batin (hati) itu pun dapat berbelok-balik.
Dalam berusaha, manusia harus menujukkan tingkah laku baik, tidak bermalas-malasan, tidak menunggu tetapi segera mengambil keputusan. Dalam mencari rizki juga demikian, harus menunjukkan akhlak yang baik. Allah berfirman:
               
Artinya: ”Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. al Jum’ah: 10)

Ayat ini memberi motivasi yang tinggi untuk mencari rizki di muka bumi ini, namun harus melalui cara-cara yang baik. Di dalam berusaha, jangan lupa berdo’a sambil berusaha, dalam artian segala kemampuan dikerahkan namun harus berserah diri kepada Allah. Sesudah berusaha dan berdo’a maka yang terakhir ialah tawakal kepada Allah:
                  
Artinya: ”Jika kamu berpaling (dari peringatanku), Aku tidak meminta upah sedikitpun dari padamu. upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan Aku disuruh supaya Aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)". (QS. Yunus: 72)

Di dalam cerita para sahabat mengenai akhlak Rasulullah, Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib. Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini….” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat
melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)”
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah isteri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam yang sering disapa “Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun [23]: 1-11.
Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari
pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu
menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam
interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.
Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.
Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat
tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memanggilnya. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.
Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita
junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk
tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari
seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.
Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar- lah yang menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu pengetahuan.”
Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”
Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang
punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih
tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan
yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka
mencela. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.
Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah
pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll. tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan “Wahai Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.
Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan
pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar
menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan
sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah
ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah
dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha
Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu
mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti
mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-
amal kamu dan kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Hujurat 1-2)
Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi
Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali
seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga berbicara kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam takut akan terhapus amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam didatangi utusan pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Wahai kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami” Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata Utbah. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat. Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.
Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran
bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah, tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya membiarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah! Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Selang beberapa waktu kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah.
Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan melaporkan kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.” Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat agung. Meskipun Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana
perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.
Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata pada para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam,
namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu
ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau
meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau
sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para
sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti
itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu.
Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.
Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya
menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata, “Lakukanlah!”Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan
memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk
memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku
ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.” Seketika itu juga
terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu,
bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam sebelum Allah memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam ke hadirat-Nya.
Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun
badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan
memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun sangat hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang
Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat
manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu
billah…..
Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik, dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir pidatonya itu Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian
ditanya nanti, apa jawaban kalian?” Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!”
Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu, betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”. (Kidh Hidayat, 2002: 56)
Ah}la>q al kari>mah berarti tingkah laku yang terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Ah}la>q al kari>mah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji. Hamzah Ya’qub mengatakan akhlak yang baik ialah mata rantai iman. sebagai contoh malu berbuat jahat adalah salah satu dari akhlak yang baik. Akhlak yang baik disebut juga akhlak mah}mu>dah. Al-Ghazali menerangkan bentuk keutamaan akhlak mah}mu>dah yang dimiliki seseorang misalnya sabar, benar dan tawakal, itu dinyatakan sebagai gerak jiwa dan gambaran batin seseorang yang secara tidak langsung menjadi akhlaknya. Pandangan al Ghazali tentang akhlak yang baik hampir senada dengan pendapat Plato. Plato mengatakan bahwa orang utama itu adalah orang yang dapat melihat kepada Tuhannya secara terus-menerus seperti ahli seni yang selalu melihat pada contoh-contoh bangunan. Al Ghazali memandang bahwa orang yang dekat Allah adalah orang yang mendekati ajaran-ajaran Rasulullah yang memiliki akhlak sempurna. Di sini terlihat adanya titik persamaan pandangan al Ghazali dengan Plato tentang taqarrub atau mendekat kepada Tuhan. (Yatim Abdullah, 2007: 134)
Al Ghazali menerangkan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik, yaitu sebagai berikut:
a. Mencari hikmah. Hikmah ialah keutamaan yang lebih baik. Ia memandang bentuk hikmah yang harus dimiliki seseorang, yaitu jika berusaha untuk mencapai kebenaran dan ingin terlepas dari semua kesalahan dari semua hal.
b. Bersikap berani. Berani berarti sikap yang dapat mengendalikan kekuatan amarahnya dengan akal untuk maju. Orang yang memiliki akhlak baik bisanya pemberani, dapat menimbulkan sifat-sifat yang mulia, suka menolong, cerdas, dapat mengendalikan jiwanya, suka menerima saran dan kritik orang lain, penyantun, memiliki perasaan kasih dan cinta.
c. Bersuci diri. Suci berarti mencapai fitrah, yaitu sifat yang dapat mengendalikan syahwatnya dengan akal dan agama. Orang yang memiliki sifat fitrah dapat menimbulkan sifat-sifat pemurah, pemalu, sabar, toleransi, sederhana, suka menolong, cerdik dan tidak rakus. Fitrah merupakan suatu potensi yang diberikan Allah, dibawa oleh manusia sejak lahir yang menurut orang yang sabar menahan penganiayaan demi tegaknya keadilan dan kebenaran, pasti dia orang-orang yang dicintai Allah.
d. Sabar menanggung kemiskinan dan kepapaan. Banyak orang-orang yang hidupnya selalu dirundung kemiskinan akhirnya putus asa. Ada yang menerjunkan dirinya ke dunia hitam, menjadi perampok, pencopet dan pembegal. Adalagi yang kemudian terjun menjadi pengemis, pekerjaannya tiap hari hanya minta-minta. Orang seperti ini tidak memiliki sifat sabar. Sebaliknya orang yang sabar menanggung kemiskinan dan kepapaan dengan jalan mencicipinya apa adanya dari pembagian Allah serta mensyukurinya, maka ia adalah yang di dalam hidupnya selalu dilimpahi kemuliaan dari Allah.
e. Seorang yang berakhlak mulia tidak akan takut karena ia merasa dalam kebenaran. Sesuatu yang baik dikatakan baik, yang benar dikatakan bnar dan yang salah dikatakan salah. Jika ia berada dalam kebenaran, maka ia tak merasa khawatir. Tetapi merasa aman. Namun jika ia merasa salah, maka ia menjadi cemas. Takut kepada Allah.
f. Tingkah laku orang yang berakhlak karima selaras dengan aturan-aturan yang ditetapkan Allah. Yakni aturan kebenaran. Ia senantiasa melakukan kebenaran dan menjauhi larangan-laranganNya, baik dalam keadaan sendirian maupun di tengah masyarakat.
g. Orang yang berakhlak karimah selalu menjaga diri dari sgala bentuk kemaksiatan, baik kemaksiatan lahir maupun kemaksiatan batin.
h. Ia tidak sombong, tidak berbangga diri, tidak merasa dirinya yang paling benar, tidak merasa dirinya paling pintar, tidak merasa dirinya paling kaya, tidak merasa dirinya paling kuat dan tidak pula ada perasaan tinggi hati. Apa yang dikerjakannya dianggapnya sebagai tanggung jawab hidup. (Mahjudin, 1989: 28)

Para hadirin yang berbahagia,
Sebagai umat muslim, diharapkan agar kita berusaha meningkatkan akhlak, karena mengingat betapa sangat besar bilainya akhlakul karimah itu.
Di dalam menuju cita kemuliaan dan kemurnian jiwa, yang menjadi dasar dari kehidupan, maka pastilah kita akan menemui penghalang, duri-duri yang melintang di tengah jalan. Kita akan mendapat berbagai kesulitan dan gangguan. Gangguan dan halangan itu haruslah dihadapi dengan sabar demi menjadi manusia berbudi pekerti mulia.
اعوذبالله من الشيطان الرجيم.
خذالعفوواءمربالعرف واعرض عن الجاهلين.
بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى واياكم بمافيه من الايات والذكرالحكيم. وتقبل منى ومنكم تلاوته انه هوالسميع العليم. اقول قولى هذاواستغفرالله لى ولكم ولسائرالمسلمين والمسلمات فيافوزالمستغرين ويانجاة التائبين.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yatim, 2007, Studi Akhlak dalam Prespektif Al-Qur’an, Jakarta: Hamzah
Hidayat, Kidh, 2002, Bangun Sebelum Tidur, Surabaya: Mitra Umat
Mahjudin, 1986, Membina Akhlak Mulia, Surabaya: Mitra Umat


BAB IX
KHUTBAH NIKAH

KIAT MEMBINA DAN MEMELIHARA KELUARGA SAKINAH
(Disampaikan dalam acara khutbah nikah, Pernikahan Saudara Hrianto dengan Siti Rukhmana. Pagesangan-Surabaya. Tgl. 30 November 2009).
Oleh : Kholid Noviyanto (B01207010)

السّلام عليكم ورحمة لله وبركاته
الحمد لله رب العالمين. وبه نستعين على امور الدنياوالدين. والصلاة والسلام على اشرف المرسلين. وعلى اله واصحابه اجمعين.اشهد ان لا اله الا الله واشهد ان محمد رسول الله. وقال الله تعال فالقرأن الكريم بسم الله الرحمن الرحيم.             ••   •      .فيا ايهاس اتقواالله. اتقواالله وكونوامعالصدقين. امابعد.
Yang saya muliyakan,para alim ulama’ para kiyai, para ust dan ustadzah. yang terhormat Bapak Misnan sekeluarga dan mempelai berdua serta para hadirin yang berbahagia.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Allah telah menciptakan manusia dalam keadaan berpasang-pasang, yakni ada pria dan wanita. Mereka diciptakan dari diri yang satu, namun saling membutuhkan. Pria sangat mendambakan kehadiran wanita disisinya, sebagai penawar hati dikala gunda dan teman berbagi rasa dimasa senang. Sebaliknya, wanita pun demikian halnya, betapapun kelelahan telah dimiliki oleh wanita, kekuasaan sudah ditangan, harta benda yang melimpah ruah tetapi tanpa pendamping seorang pria dalam kehidupannya. Maka keutamaan ada disisinya, itu semuanya akan terasa hambar belaka. Dapat kita fahami bahwasannya salah satu tanda dan bukti kemahakuasaan Allah adalah beliau menciptakan dalam setiap diri manusia. Menganugrahkan kedalam diri manusia tanpa diminta, perasaan saling membutuhkan antara pria dan wanita. Didalam al Qur’an surat ar Rum ayat 21 Allah berfirman:
            ••   •      
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. ar Rum: 21).

Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Disinilah agar hubungan berdua antara seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi halal dan diridhoi oleh Allah serta semua apa yang dilakukan berdua dinilai ibidah oleh Allah SWT, maka agama Islam menganjurkan untuk melaksanakan pernikahan. Dengan adanya nikah ini, kebutuhan kita bisa tersalurkan. Salah satunya hubungan intim, hubungan intim ini sangat berbahaya jikalau lama-sekian lama tidak bisa disalurkan akibatnya adalah menuju pada lorong perzinaan (Dr. Hasniah Hasan, 2004: 4). Maka Rasulullah mengatakan wahai umatku jikalau kalian sudah mampu melaksanakan nikah maka menikahlah, jikalau belum mampu maka berpuasalah. Maksud daripada mampu disini adalah mampu dari segi dhahir dan batin, dari segi dhohirnya bisa membiayai kehidupan dan batinnya sudah siap untuk melayani seorang suami dan istri. Rasulullah SAW juga bersabda didalam hadithnya mengatakan:
النكاح سنتى فمن رغب عن سنه فليس من
Artinya: “ Nikah merupakan sunnahku, barangsiapa yang tidak mau mengikuti sunnahku maka dia bukan termasuk golonganku” (M. Albary, 1991: 37).

Disinilah letak pentingnya sebuah pernikahan dan Alh}amdulilla>h pada pagi hari ini ada saudara kita saudara Hadi Herlambang yang melaksanakan sunnah Rasulullah yaitu akan membina rumah tangga dengan saudari Ana Sayidah yang tadi malam sudah melaksanakan Aqdunnika>h} (akad nikah).
Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Dalam membina rumah tangga, agar rumah tangga itu menjadi tentram, menjadi hidup yang sakinah, mawadah wa rahmah, ada kiat yang harus dimiliki oleh seorang suami dan istri. Yang pertama adalah seorang suami harus bertanggung jawab penuh terhadap seorang istri artinya seorang suami harus menjadi pemimpin bagi seorang istri, membimbing seorang istri untuk menuju apa yang diridhoi oleh Allah. Sesuai dengan firmanNya didalam surat an Nisa’ ayat 34:
                                       •     
Artinya: ”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar” (QS. an Nisa’: 34).

Kenapa dalam berumah tangga seorang suami harus menjadi pemimpin? sebab seorang suami mempunyai tanggung jawab penuh mulai mendidik sampai memberikan nafkah kepada seorang istri. Disinilah istri juga harus mengerti jangan sampai seorang istri marah-marah kepada suami, jika terjadi misalnya: Mas Hadi dengan Mbak Ana. Mas Hadi sudah payah mencari nafkah datang kerumah bukan disambut dengan baik malahan di marah-marahin karena ada sesuatu yang kurang, ini hal yang sangat tidak baik. Jika hal ini terjadi, seorang suami harus menasehati dan memisah dari ranjang seorang istri, jikalau tidak bisa pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Jadi misalnya, Mbak Ana sedang nusyuz (sedang marah), inilah kewajiban Mas Hadi adalah memberi nasihat kepada Mbak Ana. Jikalau tidak bisa, pisahkan dari ranjang, kenapa Allah memerintahkan untuk memisahkan dari ranjangnya? sebab tujuannya adalah agar seorang istri ini marahnya cepat hilang dan cepat-cepat meminta maaf kepada suami dan seorang istri jikalau dipisahkan dari ranjang tidurnya dari seorang suami pasti dia gelisah, ini keampuan cara seorang suami disaat seorang istri sedang nusyuz (marah) (M. Nawawi bin Umar, 1994: 11).

Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Jadi untuk menjadikan rumah tangga sakinah mawadah warahmah, kewajiban seorang suami harus bertanggung jawab dan menjadi pemimpin bagi suami mulai dari mencukupi nafkah, menjaga keselamatan dan sebagainya.
Agar rumah tangga itu mempunyai kebahagiaan, seorang suami terhadap istri haruslah ( وَعَاشِرُوهُنَّ بِااْلمَعْرُوْف) bergaul baik tidak saling bertengkar dan agar rumah tangga menjadi tentram tidak hanya seorang suami saja yang mempunyai kewajiban, akan tetapi seorang istripun juga punya kewajiban terhadap seorang suami diantaranya adalah:
a. Istri berkewajiban menggembirakan hati suami
Hadirin, kedengarannya tugas ini cukup sederhana, akan tetapi jika dikaji dan dijabarkan secara oprasional, cukup luas dan meminta tanggung jawab yang penuh dari kaum wanita (Dr. Hasniah Hasan, 2004: 78).
Rasulullah juga bersabda didalam hadithnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA
خَيْرٌ النِّسَاءِ مْرَاَةَ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ. وَاِنْ اَمَرْتَهَا اَطَاعَتْكَ. وَاِنْ عِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِى مَالِكَ وَنَفْسِهَا.
Sebaik-baik wanita adalah wanita yang jika kamu memandangnya ia menyenangkan kamu, apabila kamu memerintahkannya ia mentaati dan apabila kamu tinggal pergi, maka ia menjaga harta dan dirinya.

b. Menyenangkan hati suami
Seorang istri harus pandai-pandai untuk menghias dirinya untuk seorang suami, agar hati seorang suami ini tetap senang tidak pemarah. Jikalau seorang istri selalu menyenangkan hati suaminya, rumah tangga akan tentram bahagia selalu dan inilah kata Rasulullah, istri yang semacam ini adalah istri yang shalilah. Jadi, istri harus ( إذانظرت اليها سرتك) jikalau dipandang suami menyenangkan, misalnya Mbak Ana dengan Mas Hadi ini, Mbak Ana harus memahami tugas dan tanggung jawabnya, ketika Mas Hadi mau kerja Mbak Ana harus melayani, menyiapkan semuanya jikalau sudah usaikerja sambutlah Mas Hadi dengan wajah berseri-seri, senyum yang manis, pakaian yang sekiranya suami melihat sangat indah sekali. Ini harus dilakukan oleh layaknya seorang istri.
c. Mentaati perintah seorang suami
Dalam kehidupan rumah tangga, salah satu kewajiban istri terhadap suami adalah mentaati perintah dari suami selagi apa yang diperintahkan itu baik, jikalau suami memerintahkan kepada kejelekan, jangan dipatuhi. Seperti rumah tangga yang akan dibangun oleh Mas Hadi dengan Mbak Ana, jikalau Mas Hadi merintah kepada Mbak Ana untuk melayani, Mbak Ana harus melayaninya sebab ketika Mbak Ana tidak mau melayani, Mbak Ana dapat laknat dari ribuan Malaikat. Ketika Mbak Ana diperintah untuk sholat berjama’ah, Mbak Ana harus sholat berjama’ah, hal ini akan menjadikan tentramnya rumah tangga.
kewajiban seorang istri terhadap suami yang selanjutnya adalah:
d. Menjaga harta suami, jadi jikalau seorang suami kerja atau keluar kota, seorang istri berkewajiban untuk menjaga harta yang ditinggal seorang suami dan ada yang paling penting, jikalai istri mau keluar rumah itu harus meminta izin kepada suami, inilah bentuk ketaatan seorang istri terhadap suami (M. Nawawi bin Umar, 1994: 32). Begitu juga suami dengan istri sesuai dikisahkan dari putri Rasulullah Fatimah dengan Sayidina Ali. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., ia berkata: ”Bahwasannya pada suatu haru Rasulullah saw datang di rumah puterinya, Fatimah az Zahra’ ra., beliau melihat Fatimah sedang menumbuk gandum di atas gilingan dengan menangis”. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya: ”Apa sebabnya anda menangis wahai Fatimah!. Semoga Allah tidak menangiskan matamu!”. Jawab Fatimah: ”Wahai ayahku, yang menyebabkan aku menangis adalah batu gilingan ini dan kesibukan kerja rumah”. Maka duduklah Rasulullah mengahampiri Fatimah. Lalu Fatimah berkata: ”Ayahanda, dengan kemualiaanmu dan dengan segala kerendahan hati berkenan kiranya ayahanda memerintahkan kepada Ali bin Abu thalib untuk membantu membelikan seorang jariyah (pembantu) buatku, sehingga dapat membantu diriku menggiling gandum serta menyelesaikan pekerjaan di rumah”. Setelah Rasulullah saw mendengar penuturan Fatimah, beliau terus bangkit menuju gilingan dan mengambil sedikit gandum dengan tangannya, lalu meletakkan tangan di atas gilingan, seraya membaca: ”Bimillahirrohmanirrohim”. Seketika itu gilingan berputar sendiri atas izin Allah. Lalu beliau mengambil gandum sambil membaca tasbih (dengan menggunakan bermacam-macam bahasa) hingga selesai menggiling gandum. Kemudian Rasulullah saw berkata kepada gilingan gandum itu: ”Berhentilah dengan izin Allah!”. Gilingan itu pun berhenti seketika dan dengan izin Allah yang membuat segala sesuatu dapat berbicara, gilingan itu berbicara dengan ucapan yang fasih dalam bahasa Arab: ”Ya Rasulullah, demi Dzat yang mengurus engkau menjadi Nabi dan rasul pembawa kebenaran. Andaikata engkau menyuruhku menggiling gandum di tanah timur dan barat, aku tentu menggiling seluruhnya. Dan sesungguhnya aku mendengar keterangan di dalam Kitab Allah:
        ••              
Artinya: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. at Tahrim: 6).

Jadi aku merasa takut kalau aku ini termasuk batu yang masuk neraka!”, Maka Rasulullah saw bersabda: ”Bergembiralah kamu, karena kamu termasuk batu gedung Fatimah di Sorga”. ketika itu batu merasa gembira dan berhenti. Kemudian Nabi saw bersabda kepada puterinya yaitu Fatimah: ”Wahai Fatimah, andaikata Allah menghendaki, maka gilingan itu pasti menggiling sendiri. Tetapi Allah menetapkan amal kebaikanmu, melebur kejelekanmu dan meninggikan derajatmu”. Beliau lalu melanjutkan wasiat-wasiatnya:
1) Wahai Fatimah, wanita yang membuat tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, Allah pasti menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.
2) Wahai Fatimah, wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suaminya, niscaya Allah menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh tabir lobangan.

Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Liku-liku didalam rumah tangga sangat banyak sekali, kalau kita tidak bisa menyikapi hal ini rumah tangga tidak akan tentram. Bagaimana jikalau terdapat masalah dalam rumah tangga? jawabannya tentu selesaikan dengan jalan musyawarah sebab dengan musyawarah semua persoalan yang dihadapi khususnya dalam lingkup rumah tangga pasti akan terselesaikan (M. Albany, 1991: 109).

Hadirin yang dirahmati oleh Allah
Jadi untuk menjadikan keluarga yang sakinah mawadah didalam rumah tangga, suami harus mengerti dan menjalankan kewajiban terhadap istri, begitu juga sebaliknya, dan jikalau ada sebuah persoalan selesaikan dengan baik, hal ini dapat mententramkan kehidupan rumah tangga dan dapat memelihara.
Sekian dari saya sekelumit kata semoga bermanfaat bagi yang lain khususnya mempelai berdua.
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَباَرَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِى خَيْرِ
Mudah-mudahan Allah memberkahimu dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.
اقول قولي هذا وستغفرالله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات فاستغفروه انه هوالغفورالرحيم استغفر الله العظيم الذي لا اله الا الله والحي القيم واتوب اليه...



DAFTAR PUSTAKA

Hasan, Hasnia. 2005. Keluarga Penghuni Surga. Surabaya: Bina Ilmu
al Bahy, Muhammad. 1991. Kehidupan Islami Muslim. Jakarta: Darul Fikri
Nawawi, Muhammad. 1994. Etika Berumah Tangga. Surabaya: al Hidayah





































Keutamaan Nikah Dalam Aspek Kehidupan

Oleh Miftahul Fikri
Khotbah Nikah Dalam Acara Pernikahan Kholid Bin Umar Dengan Anita Binti Amin
Di Perumahan Made Karya Indah Kabupaten Lamongan Pada Tanggal 21 Januari 2009


الحمد لله المحمود ينعمته المعبود بقدرته
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمد عبده و رسوله
اللهم صلى على سيدنا محمد و على اله و اصحابه و سلم
امابعد , فيا ايها الناس اتقوا الله واعلموا ان النكاح من سنة رسول الله
قال الله تعالى : يا ايها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة و خلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا و ساء و اتقوا الله الذي تساء لون به و الا ر حام ان الله كان عليكم رقيبا

Pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Pada umumnya pernikahan dilaksanakan dalam seumur hidup. Sebuah pernikahan memiliki maknah yang dalam bagi setiap orang yang melakukannya. Janji untuk selalu bersama sepanjang hidup diikrarkan oleh setiap pasangan , meskipun kadanng janji itu tidak dapat ditepati karena sebuah pemasalahan yang berujung pada perseraian. Dalam kehidupan sehari-hari, pernikahan menjadi momen yang sangat pernting bagi mempelai putra atau putri, keluarga, dan tetangga. Oleh karena itu sebuah acara pernikahan dipersiapkan jauh-jauh hari sbelumnya. Mulai dari membuat undangan, mendekorasi rumah, sampai menyediakan makanan yang layak untuk tamu-tamu yang di undang.

Setiap daeran memiliki adat istiadat sendiri dalam melangsungkan sebuah acara pernikahan. Adat pernikahan masyarakat Jawa dan Madura berbeda satu sama lainnya, begitu juga adat pernikahan di daerah lain. Walaupun dalam melangsungkan pernikahan memiliki cara dan adat istiadat yang berbeda-beda, tetapi memiliki syarat dan rukun yang sama. Syarat-syarat untuk melangsungkan sebuah pernikahan secara garis besar ada dua yaitu syarat yang pertama adalah mempelai laki-laki dan perempuan merupakan orang yang sah untuk menikah. Artinya, kedua calon pengantin adalah orang yang tidak haram dinikahkan. Syarat yang kedua adalah akad nikah harus dihadiri oleh saksi.

Pernikahan yang dilakukan oleh setiap orang harus memenuhi rukun-rukun yang ditetapkan sesuai dengan ajran agama Islam. Rukun nikah adalah adanya calon suami dan istri yang akan melakukan pernikahan, Adanya wali dari pihak calo pengantin wanita, Adanya dua saksi, dan adanya ijab kabul yang diucapkan oleh wali atau wakilnya dari pihak wanita, dan dijawab oleh calon pengantin pria. Jika salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi, maka pernikahan yang dilakukan tidak sah dan diharamkan untuk melakukan hubungan suami istri.
Pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah seorang hamba kepada Sang Pencipta. Pernikahan akan memiliki peranan penting dalam kehidupan jika suami istri dapat menjalankan kewajibannya dengan baik. Sebuah pernikahan hendaklah dilakukan dengan dasar keimanan kepada Allah SWT agar tercipta keluarga yang sakinah.

Allah Yang Maha Pencipta berfirman dalam Al Qur’an :

و من اياته ان خلق لكم من انفسكم ازواجا ليسكنوا اليها و جعل بينكم مودة و رحمة ان فى ذلك لايات لقوم يتفكرون

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialahDia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”
(QS. Ar Rum : 21)

Dari ayat tersebut, kita mengetahui bahwa Allah memerintahkan manusia untuk melangsukan sebuah pernikahan untuk kebahagiaan kita hidup di dunia ini. Sebuah pernikahan akan melahirkan kebahagiaan bagi masing-masing mempelai, baik mempelai putra atau putri. Saudara, keluaraga, tetangga, juga masyarakat di sekitarnya juga akan merasakan kebahagiaan tersebut.

Perintah menikah juga ditegaskan dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW

النكاح من سنتى فمن لم يعمل بسنتى فليس منى

“Nikah itu adalah sunahku, maka barang siapa yang tidak mau mengikuti sunahku, dia bukan umatku” (HR. Ibnu Majah)

Pernikahan adalah suatu akad antara pria dengan seorang wanita atas dasar kerelaan dan kesukaan kedua belah pihak, yang dilakukan oleh pihak lain / wali menurut sifat dan syarat yag telah ditetapkan syara’ untuk menghalalkan percampuran antara keduanya, sehingga satu sama lain saling membutuhkan menjadi sekutu sebagai teman hidup dalam rumah tanggah.

Sebuah pernikahan menjadi kunci untuk membuka kehalalan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Hubungan tersebut adalah fitrah manusia sebgai makhluk ciptaan Allah. Manusia merupakan makhluk yang sempurna karena memiliki akal dan nafsu. Oleh karena itu, kita tidak boleh melakukan hubungan suami istri tanpa memperdulikan aturan dan tata krama yang ada. Kita bukan hewan yang seenaknya melakukan hubungan untuk menghasilkan keturunan. Kita adalah manusia yang memiliki kehormatan. Agama Islam telah mengatur kehidupan kita dalam semua aspek termasuk hubungan antara laki-laki dan perempuan. Semuanya sudah diatur dalam Al Qur’an dan Hadits. Kita sebagai umat Islam cukup melaksanakan apa yang tercantum dalam kitab suci tersebut.

Pernikahan yang terjadi di masyarakan memiliki kedudukan penting di segala aspek kehidupan. Dari aspek biologis pribadi sampai politik yang memiliki peran luas di masyarakat, sebuah pernikahan mendapat tempat untuk ikut berperan dalam kelancara aspek tersebut. Aspek-aspek kehidupan itu tidak dapat lepas dari peran pernikahan di dalamnya. Hal itu menunjukan betapa pentingnya pernikahan dalam kehidupan.

Dengan melakukan pernikahan segi badaniah kita mendapat manfaat, tetapi bukan sebagai tujuan pokok melainkan sebgai komplemen saja. Hal itu mengingatkan bahwa kita adalah manusia bukan hewan yang bebas berbuat apa saja. Manusia mempunyai insting seksualitas yang harus dilaksanakan dengan sopan, terhormat, suci, serta mulia. Sebuah pernikahan memerlukan kematangan biologis dan psikologis pelakunya, sebab dalam pernikahan diperlukan beberapa hal. Dalam sebuah pernikahan diperlukan tanggung jawab, kehormatan, kebijaksanaan, keadilan, semangat, dan kasih sayang. Semuanya itu merupakan hal-hal yang berhubungan dengan kejiwaan dan kondisi psikis pelaku pernikahan. Pernikahan tidak lepas kaitannya dengan pendidikan. Dalam membangun sebuah keluarga yang sakina, Kita dididik supaya konsekuen, tanggung jawab, serta disiplin. Apalagi kalau sudah mempunyai seorang anak, maka unsur pendidikan akan lebih jelas terlihat. Pendidikan sangat penring bagi perkembangan seorang anak. Tanggung jawab material atau ekonomis sangat diperlukan dalam sebuah keluarga. Tanggung jawab ini biasanya dibebankan dipundak seorang suami. Hal ini tidak berarti bahwa seorang istri tidak boleh membantu suami memikul tanggung jawab ini. Seorang istri boleh membantu suami dalam mencukupi kebutuhan ekonominya. Bahkan ada istri yang menghidupi suaminya. Segala sesuatu yang bersifat materi atau ekonomi sangat berkaitan erat dengan sebuah pernikahan. Keluarga yang dibentuk oleh sebuah pernikahan akan menjadi unit terkecil dari masyarakat, baik memiliki anak atau tidak memiliki anak. Keluarga memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial di masyarakat. Islam telah mengatur sebuah pernikahan secara terperinci untuk membentuk keluarga yang baik. Suatu bangsa akan menjadi bangsa yang baik, jika terbentuk keluarga-keluarga yang baik di dalamnya.Unsur dakwah dalam pernikahan juga dapat terlihat. Hal itu dapat kita ketahui dari sejarah penyebaran Islam di Indonesia.banya da’i-da’i yang menyebarkan Islam dengan jalan menikahi seorang putri di daerah tempatnya berdakwah. Penyebaran Islam dengan jalan pernikahan sangat diperbolehkan oleh agama. Aspek politik juga tidak lepas hubunganya dengan sebuah pernikahan. Hal ini dapat dijumpai pada pernikahan nabi Muhammad SAW terhadap istri-istrinya. Beliau menikahi istri-istrinya dengan tujuan politik utuk dakwah Islam. Orang islam boleh menikahi wanita selain Islam. Perempuan yang beragama kriste, katolik, hinndu, dan budha boleh dinikahi oleh pria yang beragama Islam, tapi seorang wanita Islam tidak boleh menikah dengan pria yang beragama selain Islam.

Ada sebuah kisah yang terdapat dalam kitab Irsyadul ‘Ibad. Sebuah kisah yang menggambarkan betapa pentingnya sebuah pernikahan bagi seorang muslim. Dalam kisah itu diceritakan oleh Abdul Abbas bin Ya’qub, bahwa ia pernah bermimpi bertemu seseorang yang bernama Ma’ruf Al Khurkhi. Kemudian ada seseorang yang bertanya kepada Ma’ruf, “Apa yang diperbuat Allah SWT kepadamu ?”. Ma’ruf menjawab, “Allah memperbolehkan aku masuk surga, hanya saja aku masih menyesal lantaran aku meninggal dunia lantara dalam keadaan belum nikah”.

Kisah tersebut menujukan betapa pentingnya perikahan dalam kehidupan ini. Penyesalan karena tidak melangsungkan sebuah pernikahan tidak hanya dirasakan di dunia. Hal itu juga dirasakan di kehidupan akhirat. Maskipun seorang hamba mendapat surga di akhirat, rasa penyesalan akan selalu ada karena selama di dunia dia tidak menikah.

Demikian yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini. Semoga pernikahan ini mendapat rahmad dan kasih sayang dari Allah SWT sehingga dapat membentuk keluarga yang sakina, melahirkan putra putri yang sholeh shalihah, serta dapat berperan dalam membangun bangsa yang baik.


اقول قولى هذا و استغفر الله العظيم لى و لكم و لسائر المسلمين و المسليمات و المؤمنين و المؤمنات
فاستغفروه انه هو الغفور الرحيم

استغفر الله العظيم X ٣
اشهد ان لا اله الا الله و اشهد ان محمد عبده و رسوله X ٣

DAFTAR PUSTAKA

Slamet Abidin, 1999, Fiqh Munakahat, Pustaka Setia, Jakarta.
Sulaiman Rasjid, 1995, Fiqh Islam, Sinar Baru Algensindo, Bandug.
Aqis Bil Qisthi, 2005, Meniti Jalan Yang Lurus, Bintang Usaha Jaya, Surabaya.




































HAKEKAT NIKAH
OLEH AAN SUTANTO (B01207013)

Hadirin yang kami hormati, Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu telah mampu berkeluarga hendaknya ia kawin, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikanmu.” Muttafaq Alaihi.
Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai ahlaq yang luhur dan sentral. Karena lembaga itu memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di bumi ini. Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. ‘Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci, sebagaimana firman Allah Ta’ala.
           
"Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”. (An-Nisaa’ : 21).
Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. (Imam Suhirman, 2007 : 21)
Hadirin yang kami muliakan, perkawinan adalah fitrah kemanusiaan. Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Ta’ala cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar tidak terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas fithrahnya. Perkawinan adalah fitrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak menjerumuskan ke lembah hitam. Islam mempunya pendapat tentang nikah, yaitu :
A. Islam Menganjurkan Nikah
Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali, sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).
B. Islam Tidak Menyukai Membujang
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras”. Dan beliau bersabda : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di hari kiamat”. (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).
Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peribadatan beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata: Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata: Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya …. Ketika hal itu didengar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau keluar seraya bersabda : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku”. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).
Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain Muhammad Yusuf : “Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas dari semua tanggung jawab”.
Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri. Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan. Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagiaan hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah. Rasulullah Saw. bersabda : "Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu). Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu pernah berkata : “Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah sebagai seorang bujangan”. (Muhammad Nashiruddin Al Albani, 2004 : 33-35)
Hadirin yang kami muliakan, tujuan perkawinan dalam islam adalah
1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi
Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.
2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur
Sasaran utama dari disyari’atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur. Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq (perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut :
                                                   
“Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim”. (Al-Baqarah : 229).
Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal :

a. Kafa’ah Menurut Konsep Islam
Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur lewat materi saja.
Menurut Islam, Kafa’ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa’ah menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq seseorang, bukan status sosial, keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya.
Dan mereka tetap sekufu’ dan tidak ada halangan bagi mereka untuk menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berfaham materialis dan mempertahankan adat istiadat wajib mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan celaka”. (Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim 4:175).
b. Memilih Yang Shalihah
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihah dan wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur’an wanita yang shalihah ialah : Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka)”. (An-Nisaa : 34).
Menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita yang shalihah ialah : “Ta’at kepada Allah, Ta’at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32), Tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, Ta’at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta’at kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya”. Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat melahirkan generasi penerus umat.
4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah
Menurut konsep Islam, hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi istri-pun termasuk ibadah (sedekah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa’i dengan sanad yang Shahih).
5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih
Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan bani Adam, Allah berfirman : “Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?”. (An-Nahl : 72).
Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak “Lembaga Pendidikan Islam”, tetapi isi dan caranya tidak Islami. Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar.
Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.
Hadirin yang kami muliakan, rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang diliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah (kasih saying. Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami dan istri harus saling memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan kewajibannya serta memahami tugas dan fungsinya masing-masing yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang mendapat keridla’an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan, sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia mendadak dilanda “kemelut” perselisihan dan percekcokan. (Mohammad Fauzil Adhim, 2008 : 55-61)
Marilah kita berupaya untuk melakasanakan perkawinan secara Islam dan membina rumah tangga yang Islami, serta kita wajib meninggalkan aturan, tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridlai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ali-Imran : 19).
            • 
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al-Furqaan : 74)
Amiin…

DAFTAR PUSTAKA

Imam Suhirman, Menjadikan Keluarga Bahagia - Manajemen Menuju Keluarga Sakinah Dan Bimbingan Perkawinan, Bandung : Media Istiqomah, 2007
Mohammad Fauzil Adhim, Kado Pernikahan Untuk Istriku, Jakarta : Mitra Pustaka, 2008
Muhammad Nashiruddin Al Albani, Adab Az Zifaf Panduan Pernikahan Cara Nabi, Yogyakarta : Media Hidayah, 2004





























BERSEDEKAH

Oleh siti Ma’zumah
(disampaikan pada jam’iyah yasiin ibu-ibu desa Siwalanrejo, Lamongan)
Kamis, 13 Agustus 2009

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العلمين. وبه نستهين على امور الدنيا والدين. والصلاة ولسلام على المبعوث رحمة للعلمين وعلى اله واصحابه اجمعين. اما بعد

Ibu-ibu yang dirahmati Allah swt

Dalam kehidupan di dunia ini setiap manusia pastilah membutuhkan manusia yang lain, antara manusia yang satu dengan yang lain tidak bisa sendiri. Karena manusia adalah makhluk social yang membutuhkan bantuan sesamanya. Ada sebagian manusia yang diberi Allah SWT rizki melimpah ada juga sebagian manusia yang diberi Allah rizki yang kurang. Perbedaan itu tidak latas menjatikan fitrah manusia sebagai makhluk sosial berubah. Mereka yang kaya tetap membutuhkan manusia yang miskin, meskipun si kaya memiliki harta yang lebih. Begitu sebaliknya mereka yang tergolong miskin juga membutuhkan yang kaya untuk mendapatkan rizki.
Allah memerintahkan manusia untuk bersedekah tidak lain juga demi kemaslahatan manusia itu sendiri, agar antara si kaya dan si miskin saling membantu. Sedekah merupakan amal yang mulia di sisi Allah SWT. Ada dua jenis amal sedekah yang kita ketahui yaitu yang ditentukan oleh agama dan sedekah spiritual yang memiliki sifat berbeda.
Derma / sedekah yang ditentukan oleh agama adalah dari harta benda yang diperoleh secara sah (halal) di dunia ini. Setelah diambil sejumlah tertent untuk kebutuhan keluarga, selebihnya dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Amal sedekah sepiritual, bagaimanapun diambil dari orang yang memperoleh harta benda akhirat. Ia juga dibeirkan kepada orang-orang yang membutuhkan hal itu, yaitu kepada orang-orang miskin secara sipritual.
Sedekah adalah pemberian derma kepada orang miskin. Allah SWT menetapkan hal ini dalam firmannya :
انما الصدقة للفقراء والمسكين (التوبه : 60)
Artinya : “sesungguhnya zakat-zakat itu hanya untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin…” (QS. At-Taubah : 60)

Apa saja yang diberikan untuk tujuan ini adalah melalui tangan-tangan Allah Yang Maha Tinggi sebelum mencapai orang yang membutuhkan. Oleh karena itu, tujuan dari amal sedekah bukan hanya untuk membantu orang yang membutuhkan karena Allah adalah yang memenuhi segala kebutuhan. Melainkan membiarkan niat penderma dapat diterma Allah SWT.
Mereka yang dekat kepada Allah menyediakan pahala-pahala spiritual dari perbuatan-perbuatan shaleh mereka untuk para pendosa. Allah yang Maha Tinggi mewujudkan rahmad-Nya, mengampuni pendosa, sebanding dengan orang-orang yang mendoakanny;a, orang-orang yang memuji, orang-orang berpuasa, orang-orang yang berzakat dan pergi haji dari hamba-hamba-Nya yang bermaksud mengorbankan pahala spiritual mereka yang mungkin diharapkan sebagai suatu hasil; dari ibadah dan ketaatan mereka.
Allah SWT dalam rahmat-Nya menutupi dan menyembunyikan dosa orang-orang yang berbuat dosa sebagai suatu pahala karena ketaatan hambanya yang sholeh.
Kedermawanan orang-orang beirman itu sedemikian rupa sehingga mereka menyimpan untuk mereka sendiri, baik reputasi sebagai orang yang baik maupun harapan akan suatu pahala di akhirat. Orang yang telah mengambil jalan ini telah meninggalkan eksistnsinya sendiri. Allah mencintai mereka yang dermawan hingga hidupnya bangkrut secara total untuk dunia ini. Nabi saw bersabda, “Orang-orang yang menghabiskan semua yang dia miliki dan tidak mengharapkan memiliki suatu apapun akan berada dalam perlindungan Allah di dunia dan di akhirat.
Perempuan suci Rabi’ah al-Adawiyah biasa berdoa kepada Allah SWT, “ya tuhan, berikanlah semua bagiku di dunia ini kepada orang-orang kafir, dan jika aku memiliki suatu bagian akan akhirat, bagikanlah itu diantara hamba-hamba-Mu yang beriman. Semua yang aku harapkan di dunia ini adalah rindi kepada-Mu, dan semua yang aku harapkan di akhirat adlaah berada bersama-Mu. Karena baik manusia dan apa yang datang ketangannya untuk sesaat adalah kepunyaan pemilik keduanya”
Allah SWT membayar kembali setidaknya sepuluh kali lipat kepada orang-orang yang membei.
من جا بالحسنة فله عشر أمثالها
Artinya : “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya sepuluh kali lipat amalnya” (QS. An-An’am : 160)

Manfaat lain dari sedekah adalah pengaruh pembesihannya. Ia membersihkan harta benda seseorang dan membersihkan hidupnya. Jika hidup seseorang bersih dari sifat-sifat congkak (mementingkan diri sendiri), tujuan speiritual dari amal sedekah adalah penyempurnaannya.
Memisahkan diri sendiri dari sedikit bagian, dari apa yang di anggap sebagai miliknya, menghasilkan banyak pahala akhirat. Allah SWT bejanji :
من ذا الذى يقرض الله قرضا حسنا فيضعفه له وله أجر كريم (الحديد : 11)
Artinya : “Barang siapa mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan balasan pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh balasan yang banyak” (QS. Al-Hadid : 11)

 Tujuh keuntungan beramal shaleh
• Memiliki rasa kasih dan sayang
Adanya rasa kasih sayang terhadap sesama membuat manusia tidak memenitngkan dirinya sendiri, tetapi siap membantu mengatasi persoalan orang lain.
• Kehidupan yang baik
Kehidpuan yang baik di jalani tanpa mengabarkan ketentuan Allah dan rasul-Nya sehingga menjadi berkah
• Pahala yang besar
Di dalam ayat di atas (an-Nahl : 97) orang yang beramal shaleh dengan landasan iman kepada Allah SWT. Juga akan dibei balasan pahala yang lebh besar dari amal yang mereka lakukan sendiri Allah SWT. Memang akan melipatkan gandakan balasan pahala dari amal saleh seseorang.
• Berkuasa di bumi
Memperoleh kekuasaan di muka bumi merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh dengan sebenar-benarnya, karenanya akan di manfaatkan nya untuk menegakkan kebenaran dan menyejahterakan masyarakat.
• Memperoleh ampunan
Meskipun seseorang telah beriman dan beramal shaleh. Sebagiamana manusia sangat mungkin baginya melakukan kesalahan, terutama kesalahan yang tanpa disengaja.
• Memperoleh rezeki yang mulia
Ayat diatas (al-hajj : 50) juga menyebutkan bahwa orang beriman dan beramal shaleh akan memperoleh rezeki yang mulia, yakni rezeki yang halal dan baik.
• Memperoleh petunjuk
Amal saleh juga memberikan keuntungan kepada seorang mukmin berupa petunjuk yang diberikan Allah SWT kepadanya untuk beramal saleh yang lebih baik.
(H. Ahmad Yani, 2006; hal. 144)

Dalam kitab al-Jamii terdapat hadits disebutkan disini dan lafazh haditsnya dari mu’adz Ibnu Jabal, dia berkata :
كنت مع النبي صلى الله عليه وسلم فى سفر فأصبحت يوما قريبا منه ونحن تسير فقلت يا رسول الله أخبرنى بعمل يدخلن الجنة.
“Aku berserta nabi saw dalam suatu perjalanan, suatu hari, ketika aku berada di waktu pagi (dalam keadaan) aku dekat kepadanya dan kami sedang berjalan aku berkata, “Wahai rasululllah, beritakanlah kepadaku suatu amal yang memasukkanku ke surga….”
قد أفلح من زكها
(الشمس : 9)
Artinya :
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwa itu”
(QS. Asy-Syams : 9)

Amal sedekah “pinjaman yang baik” atau “pemberian yang indah” adalah suatu perbuatan yang baik, sebagai dari apa yang diterimanya, baik besifat materi ataupun sepiritual. Berikan ia, demi Allah, untuk hamba-hamba Allah.
Meskipun berlipat ganda pahala yang dijanjikan jangan mengerjakan untuk mendapat balasan. Beri semua hadia (pemberian) dan amal yang disertai dengan perhatian, cinta, dan kasih sayang serta bukan sebagai suatu kesenangan.
Mengharap ucapan terima kasih, membuat si penerima merasa terkena kewajiban, berutang budi, dan berterima kasih.
Allah SWT berfirman :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى ( البقرة : 264)
Artinya :
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima)” (QS. Al-Baqarah : 264)
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ(92)
Artinya :
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Ali Imran : 92)
(Habib Abdullah Zaky al-Kaaf, 2004 : 189)

Agar rezki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah, rasulullah SWT menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata rasulullah saw, “Beiau semua kesulitanmu dengan bersedekah”. Dalam hadits lain, rasulullah SWT menjelaskan, “Setiap awal pagi semasa terbit mahatari ada dua malaikat yang menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru, “ya tuhanku, karuniakanlah ganti kepada orang yang membeanjakan hartanya karena Allah”, yang satu lagi menyeruh, musnahkanlah orang yang membelanjakan hartanya”.
Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah SWT. Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi di dunia dan di akhirat karena tiada kebekahan. Jadi, sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk kepentingan dirinya. Sebab, menginfakkan harta akan memperoleh berkah, dan sebaliknya menahannya adalah celaka.
Sedekah memiliki beberapa keutamaan bagi yang mengamalkannya :
1. Mengundang datangnya rezki. Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat al-qur’an dia akan membalas kebaikan hamba-hambanya dengan 10 kebaikan. Bahkan di ayat lain dijelaskan 700 kebaikan. Kholifah Ali bin Abi Thalib menyatakan, “pancinglah rizki dengan bersedekah”.
2. sedekah dapat menolak bala. Rasulullah saw bersabda, “bersegeralah bersedekah, sebab namanya bala tidak akan dapat mendahulu sedekah”.
3. sedekah dapat menyembtuhakn penyakti. Rasulullah saw menganjurkan, “Obatilah penyakitmu dengan bersedekah”
4. sedekah menunda kematian dan memperpanjang umur. Kata Rasulullah saw, “Perbanyak sedekah, sebab, sedekah bisa memperanjangkan umur”.

Mengapa semua ini bisa terjadi ? sebab, Allah SWT mencintai orang-orang yang besedekah. .kalau Allah SWT sudah mencintai seseorang hambanya, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesiakan. Tidak ada permintaan dan doa yang Allah tidak kabulkan, serta tidak ada dosa yang Allah tidak ampuni, dan hamba tersebut akan meninggal dunia dengan Husnul Khatimah (baik). Kekuatan dan kekuasaan Allah jauh lebih besar dari persoalan yang dihadapi manusia. Lalu, kalau kekuatan sedekah begitu dasyatnya, masihkah kita belum tergerak untuk mencintai sedekah?.
Sedekah haruslah dilakukan dengan hati yang ikhlas. Berkaitan dengan ikhlas ini, Rasulullah saw mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hujrah dari Makkah, “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat. Dan seseorang akan mendapat pahala sesuai dengan apa yang diniatkannya.” Oleh karena itu hendaklah kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah SWT semata, tanpa merasa ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dan lain-lain. Yang dapat menjadikan sedekah kita sia-sia. Rasulullah saw menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rizki yang Allah berikan kepada kita menjadi bertambah berkah. Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang bersedekah dengan ganjaran yang berlipat ganda (700 kali lipat) sebagai gantinya, sebagaimana firman Allah : “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahal yang terbaik (Syurga) maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS. Al-Lail : 5-8)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kaaf Zaki Abdullah Habib, Fiqih Tasawuf, Bandung : CV. Pustaka Setia 2004
Yani Ahmad, 160 Materi Dakwah Pilihan, Jakarta : Pustaka Setia, 2006
Majuzi, Al-Majalisus Saniyyah, Syarah hadits arabain Nawawi, Bandung, : Trigenda Karya, 1995

















































Menjalin Ukhuwah Islamiyah

(untuk disampaikan dalam acara HUT Kemerdekaan RI (untuk umum) di desa banjar baru tanggal 17 Agustus 2009)
OLEH : KHOLIFAH RUSDIANA (B01207045)
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain, dengan fikiran dan kehendaknya yang bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan sebuah kelompok dalam bentuknya yang minimal yang mengakui keberadaannya, dan dalam bentuknya yang maksimal kelompok di mana dia dapat bergantung kepadanya.
Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri yang alamiah, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan. Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama. Bahkan ikatan sebagai sesama makhluk Allah. (http://www.geocities.com/rohim94/kreasi/ukhuwah.html)
Hendaknya manusia yang satu dengan yang lain, muslim yang satu dengan muslim yang lain itu bersaudara yang dalam Islam disebut dengan Ukhuwah Islamiyah agar terjalin rasa persatuan dan kesatuan hingga menjadi negara yang kokoh dan tidak bercerai berai. Adapun secar garis besar tahapan dari Ukhuwah islamiyah adalah sebagai berikut.
1. Ta'aruf
Ta'aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam rangka mewujudkan ukhuwah Islamiyah, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran, emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut,
Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs.Al Hujurat:13)

2. Tafahum
Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas tersinggung. Juga apabila kita mengetahui tabiat rekan lain yang sensitif, tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam bergaul dengannya.
Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua arah. Jadi jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang tanpa berusaha untuk juga memahami orang lain.
3. Ta'awun
Ta'awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya telah dianugerahi oleh perasaan 'iba' dan keinginan untuk menolong sesamanya yang menderita kesulitan sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam dalam hadits:

"Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya."
Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:

"Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang dizalimi." Aku bertanya, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah aku mengerti. Namun, bagaimana dengan menolong orang yang berbuat zalim?" Rasulullah menjawab, "Kamu cegah dia agar tidak berbuat aniaya, maka itulah pertolonganmu untuknya."
Jadi kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur kita, bahkan mencegah kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat kesalahan.
4. Takaful
Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan, sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan. Dalam sebuah hadits Rasulullah memberikan perumpamaan yang menarik tentang hal ini, yaitu dengan mengibaratkan orang beriman - yang bersaudara - sebagai satu tubuh.
Dalam hadits:

"Perumpamaan orang-orang beriman di dalam kecintaan, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh. Bila salah satu anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan demam dan tidak bisa tidur."
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ada lima persyaratan yang harus dipenuhi agar ukhuwah islamiyah dapat diwujudkan, yakni sebagai berikut.( Drs. H. ahmad Yani, 2006:97-98)
1. Iman dan Takwa
Iman dan takwa merupakan tempat pijakan untuk bersaudara, karena itu sesama mukmin seharusnya bersaudara dan persaudaraan itu harus didasari oleh iman dan takwa. Allah swt. berfirman,
•              
“sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. An-Nisa’ :10)
       
“teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf:67)
2. Ikhlas karena Allah
Keikhlasan kepada Allah menjadi persyaratan dalam membangun ukhuwah, karena dengan itu persaudaraan itu menjadi sejati. Allah berfirman,
                        •     
“Dan tidaklah berpecah-belah orang-orang ahli kitab melainkan setelah dating kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah:4-5)
3. Terikat dengan Ketentuan Al-Quran
Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan dalam Islam, maka bila ada yang tidak mau terikat dengan ketentuan al-Quran, tidak dapat terwujud Ukhuwah itu. Allah berfirman,
                         •           
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermsuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…” ( QS. Ali Imran:103)
4. Saling Ber-Tausiyah
Ukhuwah islamiyah akan terwujud manakala diantara sesama mukmin mau saling menasihati. Allah berfirman,
  •         `rrsid4674410 eLdXfldilsp SYM__D 2_4 \f "HQ_B_" \s_14|lt_f37_af0LLtr#h TDs20Xin3rsid_15002_XCh`rbsid46_4_12 Ldi!ldXfldbsltPd31"_yXaf0_ prch Tinsrsi 4154864happsid_6'4412 ;L*_bl`inqt QQL_ML 1(# \f _HQPB2" L14=XfLdrsdt(;f0&s08 Prc` _ds28_866_ahar0qid4274402 Xfielddrsld_Pf38Y]_r4lcH T@f0_ ( (!rpSid4&74412 :`inqd RYM@OL 115 \f "HQPB1" 14rXdhdrsdt39:` X!f0Xltrch _Xc`ar2aid46344_2 _fiel`z_fhdhjst CYMBOL 20_ 9LFldrrltXf37















BABXII
BERSYUKUR

BERSYUKUR ATAS ANUGERAH ALLAH SWT
(Disampaikan Kepada Ibu-Ibu Jam’iyah Rutinan Hari Jum’at
Di Daerah Wonocolo Surabaya, 28 Agustus 2009)
OLEH : MUSTAINAH (B01207052)


Assalamu’alaikum Wr. Wb

Yang kami hormati ibu-ibu dan para pengurus jamiyah rutinan yang dimulyakan oleh Allah SWT. Di sini saya akan menjelaskan tentang apa yang dinamakan Syukur itu. Syukur adalah mengingat atau menyebut nikmat Allah dan mengagungkan-Nya. Adapun macam-macam syukur itu ada ”3” yaitu:

1. Bersyukur dengan lisan
Caranya ialah mengingat dan menyebut-nyebut nikmat Allah atas kita. Bukan karena sombong, tetapi karena senang dan bangga. Seperti kita ucapkan ”Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah). Umpamanya seorang di beri laba dalam perdagangannya, lalu ada orang bertanya kepadanya. ”Bagaimana perjalanan dagang anda?” dijawabnya dengan ”Alhamdulillah ada kemajuan”.
(A. Ghozin Nahuha, 1986: 34).
2. Bersyukur dengan badan atau tubuh
Caranya ialah kita rajin melakukan apa yang diperintahkan Allah SWT. Seperti shalat lima waktu, pergi bergotong royong pada yang baik, dan lain-lain yang memerlukan tenaga.
3. Bersyukur dengan benda atau harta
Caranya ialah kekayaan kita pakai untuk kepentingan yang diperlukan Allah SWT. Seperti untuk biaya keluarga secara wajar, tidak kikir dan tidak mubadzir, memberikan bantuan membangun masjid, jalan raya dan lain-lain.

Apakah baiknya bersyukur itu?
1. Untuk diri sendiri
- Kita merasa senang dan bangga karena mendapat nikmat dari Allah dan terhindar dari permusuhan.
2. Untuk orang lain atau masyarakat
- Masyarakat merasa nikmat bergaul dengan kita.
- Kalau kiya kaya, masyarakat ikut memelihara kekayaan kita.
3. Untuk Allah SWT
- Pahala kita bertambah banyak
- Iman kita bertambah tinggi mutunya
- Allah akan menambah nikmat kepada kita.


Adapun dalil-dalilnya bersyukur adalah:

كُلُوْا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْالَهُ (سباء: 24)
Artinya:
”Makanlah sebagian rezeki dari Allah (Tuhanmu) dan berterima kasihlah kepada-Nya”

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ (ابراهيم: 7)
Terjemahan/artinya:
”Ingatlah pemberitahuan Tuhanmu: jika kamu bersyukur niscaya daku tambah bagimu, tetapi jika kamu kafir nikmat (tidak bersyukur). Niscaya siksaku sangat pedih pada-Nya.”


KISAH-KISAH BERSYUKUR

1. Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya’la dari Abu Khabab, dari Atha’ yang berkata, “Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a dan berkata kepadanya, Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang anda lihat pada Rasulullah SAW. beliau menangis dan bertanya, “Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan? Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau tersentuh dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau datang kepadaku, “Wahai putri Abu Bakar, izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada Tuhanku”! aku menjawab, “Saya senang berdekatan dengan anda,” tapi aku mengizinkannya. Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudlu dengan mencucurkan banyak air, lalu sholat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudia beliau ruku’ dan terus menerus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan sampai bilal dating dan memanggil beliau untuk shalat shubuh. Aku bertanya kepada beliau, “Apakah yang menyebabkan anda menangis wahai Rasulullah SAW, sedangkan Allah mengampuni dosa-dosa anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang? Beliau menjawab: “Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaiman aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepada ku:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (البقرة: 164).
Artinya:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164).

HADIRIN YANG BERBAHAGIA!
Dikatakan bahwa bersyukur-Nya Allah adalah pemberian balasan yang melaimpah bagi amal yang sedikit, seperti pepatah, “Seekor binatang dikatakan bersykur, jika ia mencari makanan melebihi jerami yang diberkan kepadanya.” Kita mungkin dapat mengatakan bahwa hakikat bersyukur adalah memuji sang pemberi kebaikan dengan mengingat-ingat kepadanya dengan mengingat ingat anugerah-Nya kepadanya. Sebaliknya, bersyukurnya Allah SWT. Kepada hambanya adalah dengan mengingat kebaikan hamba kepada-Nya. Kebaikan si hamba dengan menjadikan ia mampu menyatakan syukur dengan menjadikan ia mampu amenyatakan syukur kepada-Nya.
Syukur seorang hamba, pada hakikatnya mencakup syukur secara lisan maupun penegasan dalam hati atas anugerah dan rahmad Allah SWT.

2. Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan berkata: Nabi Musa a.s bertanya kepada Tuhan: Ya Robbi, bagaiman Adam dapat mensyukuri nikmat yang engkau anugerahkan kepadanya. Engkau jadikan dengan tanganmu dan engkau tiupkan kepadanya rohmu, engkau tempatkan ia dalam sorgamu dan engkau perintahkan malaikat sujud kepadanya? Jawab Tuhan: Ya Musa, Adam mengetahui bahwa semua itu dari padaku maka ia mengucapkan puji kepadaku maka itulah syukur terhadap semua yang aku perbuat kepadanya
(Abullaits Assamarqandi, 1992: 395).













DAFTAR PUSTAKA

- Imam al-Qusyairy an-Naisabury, Risalaul Qusyairiyah (Surabaya: 1996).
- Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin (Surabaya: 2003).
- Abullaits Assamarqandi, Tanbihul Ghofilin, (Surabaya: 1987).
- A. Ghozin Nahuha, Wasiat Taqwa, (Bulan Bintang, Jakarta: 1986).





































الحمد لله واشكر لله, والصلاة والسلام على رسول الله, وعلى اله وصحبه ومن والاه.
ولاحول ولاقوة الابالله. امابعده.

SYUKUR MENAMBAH NIKMAT
Disampaikan dalan Acara Tasyakuran di Rumah Bpk. Ibrahim Desa Klaten Nganjuk Pada Tgl.19 Oktober 2009/1942H
ARIFATUL KHOIRIYAH
B01207009


Yang saya hormati Bpk. Ky.H. Abu Bakar
Yang saya hormati Bpk. Ibrahim sekeluarga
Bapak dan Ibu para tamu undangan yang berbahagia

Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Berapa banyak kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Sudahkah kita bersyukur. Jika kita hitung maka kita tidak akan sanggup mengungkapkan seberapa banyak jumlahnya yang sudah diberikab. Ini artinya betapa banyak kenikmatan yang Allah SWT anugerahkan kepada kita, maka sudah selayaknya kita senantiasa bersyukur kepadaNya. Syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT, akan membuat nikmat itu sendiri bertambah. Sementara sebaliknya, ingkar/kufur nikmat yang diberikan-Nya, akan membuat diri kita terkena azab dari-Nya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

         •   
Artinya :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim[14]: 7)
Dalam Qs. An-Nahl juga disebutkan,
    •            


Artinya :
”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl [16]: 78)

           
Artinya:
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).

Arti syukur adalah berterima kasih. Syukur nikmat adalah berarti berterimakasih atas suatu anugerah atau pemberian. Dalam hal ini nikmat datang dari Allah SWT. Adapun macam-macam nikmat diantaranya adalah:
1. Nikmat Jasmani / Fisik
Nikmat fisik adalah suatu kenikmatan yang dirasakan oleh tubuh kita. Contohnya seperti nikmat sehat, nikmat makanan dan minuman, nikmat angin sepoi-sepoi, dan lain-lain.
2. Nikmat Rohani / Mental
Nikmat rohani adalah nikmat yang dirasakan oleh roh atau jiwa kita. Contoh nikmat jiwa yakni nikmat ilmu pengetahuan, nikmat akal pikiran, nikmat perasaan, dan lain sebagainya. (Jalaludin Rahmat, 1997: 218)

Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya. Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir. Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat yang telah diberikan Allah. . (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 2007 : 171)

Diantara contoh perilaku bersyukur kepada Allah SWT adalah :
1. Bersyukur dengan Hati dan Perasaan
- Menghindari perilaku buruk yang dibenci manusia dan Allah SWT seperti kikir, ria’, keji, dendam, sombong, takabur, munafik, dan sebagainya.
- Selalu ingat kepada Allah SWT dan juga mengingat mati.
- Memiliki perasaan cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya melebihi apapun juga.
- Mengejar kenikmatan akhirat untuk masuk surga.
2. Beryukur dengan Mulut / Ucapan
- Terbiasa Membaca Al-Quran atau tadarus
- Menyebarkan dan mengajarkan ilmu yang dimiliki
- Selalu ingat Allah dengan berzikir di manapun dan kapanpun kita berada seperti tahlil, tahmid, istigfar, takbir, ta'awudz, dan lain sebagainya
- Senantiasa berdoa kepada Allah untuk mendoakan diri sendiri, keluarga, kerabat, musuh, dan lain sebagainya.

3. Bersyukur dengan amal dan perbuatan
- melakukan ibadah shalat lima wktu
- Melaksanakan ibadah puasa wajib dan sunat
- Melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangannya
- Berperang dan berjihad di jalan Allah SWT
- Belajar dan mengajarkan ilmu yang telah didapat
- Tolong-menolong sesama manusia
- Melaksanakan ibadah zakat dan haji jika mampu dan memenuhi syarat
4. Bersyukur dengan Harta Benda
- Membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan finansial
- Menabung di bank syariah yang jauh dari praktek riba
- Membangun mushala, masjid, sekolah, jembatan, dan sebagainya
- Menyumbang dana untuk membiayai perang jihad
- Membuat rumah sakit umum
- Mendirikan panti asuhan dan panti jompo islam
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na'udzubillahi min dzalik…
Kita harus berusaha mempraktekkan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu bersyukur kepadaNya. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. .
( Yusuf Burhanudin, 2007: 45)
Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).

Bersyukur atas nikmat adalah bukti bagi lurusnya keimanan dalam jiwa manusia. Dan orang yang bersyukur kepada Allah akan selalu merasakan muroqobatullah (Kebersamaan Allah) dalam mendayagunakan kenikmatan-Nya, dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya.
Mensyukuri nikmat yaitu dengan mengungkapkan rasa kesyukuran dengan 3 cara:
1. Mengakui di dalam bathin
2. Mengucapkannya dengan lisan,
3. Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat. (Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 2007 : 229)

Alkisah, seorang sufi pernah mengadukan kesedihan dirinya karena sandal miliknya hilang dan ia tidak kuasa utuk membeli sandal baru. Saat masukke salah satu masjid raya di kota Kuffah, pada saat dirinya merasa sedih,tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki yang berjalan tanpa kedua kakinya. Betapa ia pun bersyukur seraya memuji Allah, ternyata apa yang menimpa orang lain, sungguh lebih berat daripada apa yang dialami dirinya. Belajar dari kisah tadi hendaknya setiap kita senantiasa bersyukur atas pemberian yang diberikan Allah kepada kita, yang tentunya berbeda satu sama lain. Dengan demikian, kita tidak akan pernah iri apalagi dengki terhadap nikmat yang diberikan kepada orang lain serta lupa akan nikmat kepada diri sendiri. ( Yusuf Burhanudin, 2007: 42)
Adapun manfaat dari syukur adalah:
1. Mensucikan jiwa
2. Mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan kenikmatan tersebut.
3. Menjadikan orang lain ridho dan senang kepada jiwa itu dan kepada pemiliknya, sehingga mereka mau membantu dan menolongnya.
4. Memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindung dengan aman. (Jalaludin Rahmat, 1997: 216)


Hadirin Kaum Muslimin Rahimakumullah,
Oleh karena itu, marilah kita syukuri nikmat yang Allah SWT berikan dengan meningkatkan iman, takwa, ilmu dan amal sholih kita, agar nantinya kita jangan termasuk golongan orang-orang yang rugi.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga bermanfaat dan semoga dapat memperbaiki ibadah kita kepada Allah.

سبحانك لا علم لنا إلاّ ما علّمتنا إنّك أنت العليم الحكيم
والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته



DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazali,Imam. 2003. Ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Suabaya: Gitamedia Press
Burhanudin,Yusuf. 2007. Saat Tuhan Menyapa Hatimu. Bandung : PT Mizan Pustaka
Rahmat, Jalaludin. 1997. Membuka Tirai Kegaiban. Jakarta: Mizan



























THE SECRET OF “SYUKUR”
(Disampaikan dalam Acara Halal Bihalal pada Tanggal 27 September 2009 di Desa Wonoasri )
OLEH : KHOLIFAH RUSDIANA (B01207045)
Hadirin yang berbahagia,
Alhamdulillah kita dapat melaksanakan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan yang telah meninggalkan kita seminggu yang lalu. Ini semua tidak akan terjadi tanpa adanya rahmat dan nikmat dari Allah swt., dan hal itu patut kita syukuri. Baru saja kita ditinggalkan Ramadhan, tapi rasa rindu terhadap suasana Ramadhan sudah muncul. Semoga kita dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan Tahun depan.
Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan beberapa hal mengenai pentingnya rasa syukur terhadap nikmat Allah.
Syukur ialah wujud terimakasih kepada Allah swt. atas apa yang telah dikaruniakan kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.Syukur tidak hanya berbentuk ucapan seperti dengan mengucap “Alhamdulillah”, akan tetapi juga perbuatan seperti sujud syukur.
Dari Sa’ad Bin Abu Waqash menceritakan, “ kami keluar dari Makkah bersama Rasulullah saw. menuju ke Madinah, sesampai di Azwara beliau turun dari untanya , kemudian berdoa sejenak (mengangkat kedua tangannya), lalu turun sujud cukup panjang, sesudah itu mengangkat kedua tangannya lagi (berdoa), kemudian sujud yang kedua kalinya. Dan hal itu beliau lakukan hingga tiga kali, sabdanya, ‘sesungguhnya aku memohon pada Tuhanku, agar aku diperkenankan memberikan syafaat kepada umatku, lalu Tuhan memperkenankan hal itu hanya sepertiga umatku saja, lalu aku turun sujud lagihingga tiga kali, dan memohon terus untuk seluruh umatku, hingga diterimalah permohonanku untuk memberi syafaat untuk seluru umatku. Maka turunlah aku sujud syukur kepaa Tuhanku’.” (HR. Abu Dawud) (Alhafidh Masrap Suhaemi, 1986:607)
Tidak berhenti disitu, masih banyak cara-cara untuk menyampaikan rasa syukur kita kepada Allah swt. salah satunya dengan meaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal ini, di Bulan ini disunnahkan bagi kita untuk melaksanakan puasa. Tujuannya tidak lain adalah agar mendapatkan pahala dan syafaat dari Nabi saw. selain itu juga sebagai bentuk rasa syukur kita terhadap nikmat Allah swt.
Kemudian nikmat apakah yang kita syukuri di bulan syawal ini? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan.
Ibnu Rajab dalam kitab Latho-if Al Ma’arif mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Sampai-sampai Nabi saw. pun yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan akan datang banyak melakukan shalat malam. Ini semua beliau lakukan dalam rangka bersyukur atas nikmat pengampunan dosa yang Allah berikan. (Ibnu Rajab Al Hambali, 394).
Ketika Nabi saw ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah ra. mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,
أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا
”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Ini juga di antara bentuk syukur sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)
Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya. Ada ba’it sya’ir yang cukup bagus:
”Jika syukurku pada nikmat Allah adalah suatu nikmat, maka untuk nikmat tersebut diharuskan untuk bersyukur dengan nikmat yang semisalnya”.
Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Latho-if Al Ma’arif menjelaskan, ”Setiap nikmat Allah berupa nikmat agama maupun nikmat dunia pada seorang hamba, semua itu patutlah disyukuri. Kemudian taufik untuk bersyukur tersebut juga adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan bentuk syukur yang kedua. Kemudian taufik dari bentuk syukur yang kedua adalah suatu nikmat yang juga patut disyukuri dengan syukur lainnya. Jadi, rasa syukur akan ada terus sehingga seorang hamba merasa tidak mampu untuk mensyukuri setiap nikmat. Ingatlah, syukur yang sebenarnya adalah apabila seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu untuk bersyukur (secara sempurna).” (Ibnu Rajab Al Hambali, 394)
Setiap manusia diperintahkan untuk selalu bersyukur tanpa terkecuali. Jika setiap kenikmatan yang diberikan-Nya untuk kita selalu disyukuri, Allah berjanji akan menambah nikmat-Nya untuk kita dalam bentuk apapun. Misalnya, Allah swt memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada-Nya atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Karena rasa syukur mereka itu, Allah swt mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak. Karena bersyukur adalah perintah, maka siapapun yang mengingkarinya akan diberikan adzab yang pedih. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman.
         •   
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim:7).
Seorang ulama Tabi’in berkata,
“Barang siapa merasa menerima ni’mat, hendaknya banyak membaca Alhamdulillah. Dan barang siapa yang banyak risau hendaknya banyak membaca istighfar, dan barang siapa merasa tertekan oleh kemiskinan, maka hendaknya banyak membaca laa haula walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” (Abullaits Assamarqandhi, 1992:677)
Hadirin yang berbahagia,
Kalau kita telusuri ayat-ayat Al-Quran maka kita akan jumpai banyak ayat-ayatnya yang berkenaan tentang syukur, dari tiap-tiap ayat tersebut memiliki tujuan tertentu, dan memberikan pelajaran kepada umat manusia bahwa apapun bentuknya dan bagaimanapun keadaanya manusia harus tetap bersyukur kepada Allah.
Mengapa demikian?
Karena setiap orang sangat memerlukan Allah swt dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah swt dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah swt. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah swt.
( http://www.dakwatuna.com/2008/keagungan-syukur/)
Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah swt kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah swt menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
           
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18)
Kapanpun dan di manapun kita tidak boleh putus mensyukuri nikmat Allah swt. agar Allah juga tidak ada putusnya memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Oleh karena itu bersyukurlah.

DAFTAR PUSTAKA
Assamarqandhi, Abullaits, Tanbihul Ghafilin, Terjemah dari Salim Bahreisy, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1992)
Nawawi, Imam, Riadus Shalihin, terjemah dari Alhafidh Masrap Suhaemi, (Surabaya: Mahkota,1986)
http://www.dakwatuna.com/2008/keagungan-syukur/
Ibnu Rajab Al Hambali dalam kitab Latho-if Al Ma’arif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar